Caroline Dubois Putus dengan Pelatih, Relokasi ke AS demi Pertarungan Lebih Besar
Baca dalam 60 detik
- Juara dunia kelas ringan Caroline Dubois mengakhiri kerja sama dengan pelatih Shane McGuigan dan akan pindah ke Amerika Serikat untuk meningkatkan karier.
- Dubois dijadwalkan mempertahankan gelar WBC dan WBO melawan Amelia Moore pada 29 Agustus di Birmingham, dalam gelaran MVP yang sepenuhnya menampilkan petinju wanita.
- Keputusan ini membuka peluang unifikasi gelar dan pertarungan besar lainnya, menandai langkah strategis di tengah menjamurnya tinju wanita global.

Juara dunia kelas ringan Caroline Dubois memutuskan berpisah dengan pelatih Shane McGuigan dan akan memindahkan basis latihannya ke Amerika Serikat. Langkah ini diambil sang petinju Inggris berusia 25 tahun untuk mencari tantangan baru dan mempercepat perkembangannya di atas ring.
Dubois, yang menyandang sabuk WBC dan WBO, masih akan bertarung di Inggris pada 29 Agustus mendatang. Ia dijadwalkan menghadapi petinju Amerika Amelia Moore dalam laga utama kartu Most Valuable Promotions (MVP) yang seluruhnya diisi petarung wanita, di BP Pulse Live Arena, Birmingham. Namun setelah laga itu, ia akan hijrah ke AS untuk menjalani program latihan intensif.
“Saya menjalani masa yang luar biasa bersama Shane. Tidak ada kepahitan, tidak ada perpisahan buruk, tidak ada benturan, tidak ada renggang,” ujar Dubois kepada BBC Sport. “Ini langkah yang saya perlukan untuk maju.” Meski belum mengumumkan nama pelatih barunya, sumber menyebut ia akan bekerja dengan pelatih Amerika Manny Robles.
Kartu pertarungan 29 Agustus menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah tinju wanita Inggris. Selain Dubois–Moore, laga utama adalah unifikasi gelar kelas ringan junior antara Chantelle Cameron (Inggris) dan Mikaela Mayer (AS). Juga akan tampil mantan juara tiga divisi Terri Harper yang kembali setelah dikalahkan Dubois, serta petinju Australia Skye Nicolson yang baru bergabung dengan MVP.
Dalam konferensi pers di London, Dubois dan Moore sempat bersenda gurau. Moore memberikan topi Los Angeles Lakers sebagai ucapan selamat karena Dubois akan “menjadi orang Amerika”. Namun Dubois segera menunjukkan keseriusannya. “Saya selalu mengatakan saya mengejar kehebatan. Saya ingin menjadi petarung terbaik yang pernah Anda lihat,” tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik sebagai cermin pertumbuhan tinju wanita global. Meskipun tinju wanita belum sepopuler di Indonesia, prestasi petinju seperti Dubois—yang berani mengambil langkah berisiko demi kemajuan karier—bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air. Persaingan ketat antar promotor seperti MVP dan Matchroom juga membuka peluang pertarungan antar benua yang lebih sering.
Jika Dubois melewati Moore, ia mengincar unifikasi gelar lebih lanjut. Gelar WBA dipegang Stephanie Han (AS), sementara sabuk IBF dimiliki Elif Nur Turhan (Turki). Dubois juga menantang Alycia Baumgardner, yang dianggapnya enggan bertarung. Sementara itu, Cameron dan Mayer sama-sama menekankan pentingnya petarung elite saling berhadapan untuk memajukan olahraga. “Berhenti bicara, buat pertarungan terjadi,” kata Cameron. Pertanyaannya, akankah tinju wanita terus melaju tanpa hambatan politik promotor?



