Scotland Pertahankan Emas Para-Mixed Pairs Bowls Usai Drama Tie-Breaker
Baca dalam 60 detik
- Tim Scotland sukses mempertahankan emas nomor ganda campuran para-bowls setelah menaklukkan Inggris melalui adu set penentuan.
- Format baru dua set lima babak serta kehadiran DJ dan bola disko menjadi cara federasi menarik minat generasi muda.
- Kemenangan ini menegaskan bahwa olahraga bowls tidak hanya untuk lansia, melainkan juga inklusif bagi atlet tunanetra.

Skotlandia kembali merebut medali emas nomor ganda campuran para-bowls B2-B3 di Commonwealth Games Glasgow, Selasa (9/8), setelah menjalani laga sengit melawan Inggris yang berakhir lewat adu set penentuan.
Pertandingan yang digelar di SEC Centre sejak pukul 08.30 waktu setempat itu menyuguhkan atmosfer berbeda. Alih-alih hening ala olahraga tradisional, panitia memutar lagu Bee Gees dan memasang bola disko raksasa. Langkah ini merupakan bagian dari strategi federasi bowls untuk menarik penonton muda dan menghapus stigma bahwa bowls hanya olahraga orang tua. Format anyar berupa dua set masing-masing lima babak pun diuji coba di ajang ini.
Di hadapan pendukung tuan rumah, tim Skotlandia yang diperkuat Robert Barr (skip), Sarah Jane Ewing (direktur), Mary Stevenson (lead), dan Jim Aitken (direktur) tampil percaya diri. Barr dan Ewing sebelumnya juara di Birmingham 2022, namun pengalaman di depan publik Glasgow terasa lebih spesial. โLebih baik lagi,โ ujar Barr usai pertandingan.
Laga berjalan ketat. Setelah imbang 1-1 dalam set reguler, babak tie-breaker satu babak penentuan dimulai. Inggris unggul lebih dulu berkat lemparan akurat Ron Homer, atlet tertua di Commonwealth Games tahun ini. Barr yang tunanetra kemudian berhasil membalikkan keadaan dengan lemparan presisi yang menggeser jack ke posisi menguntungkan. Inggris gagal membalas, dan Skotlandia pun berpesta.
Keberhasilan ini tidak lepas dari ketenangan tim di bawah tekanan. Jim Aitken memuji performa Mary Stevenson dan Robert Barr yang โbermain fantastis sepanjang pekan dan tetap tenang meski dibebani ekspektasi besar.โ Sarah Jane Ewing, yang kembali naik podium bersama Barr, mengaku bangga bisa mematahkan stigma bahwa bowls hanya milik pria tua. โSaya bisa menangis,โ katanya.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat potensi besar olahraga inklusif. Meski bukan anggota Commonwealth, semangat yang sama bisa diterapkan dalam pengembangan cabang olahraga penyandang disabilitas di Tanah Air. Lawn bowls sendiri belum populer di Indonesia, tetapi adaptasi format dan atmosfer pertandingan yang ramai bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi atlet difabel nasional.
Pertandingan ini juga membuktikan bahwa bowls mampu menyuguhkan drama dan emosi setara cabang olahraga utama. Seorang anggota media Inggris yang pertama kali menyaksikan bowls mengaku lebih merasa patriotik saat menonton laga ini ketimbang Piala Dunia sepak bola beberapa waktu lalu. โSaya ketagihan,โ ujarnya.
Ke depan, federasi bowls dunia dihadapkan pada tantangan menjaga momentum inovasi tanpa menghilangkan esensi olahraga. Akankah format baru ini diadopsi di ajang multievent lain? Atau justru hanya menjadi pemanis sesaat? Yang jelas, kemenangan Skotlandia tidak hanya mengharumkan nama tuan rumah, tetapi juga memberi napas baru bagi olahraga yang kerap dipandang sebelah mata.



