Gempa M7,1 di Kumamoto: Mal Aeon Ambruk, Puluhan Terjebak, Lebih 50 Luka
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, menyebabkan sebagian besar struktur pusat perbelanjaan Aeon Mall runtuh dan menjebak puluhan orang di bawah reruntuhan.
- Lebih dari 200 pengunjung berhasil menyelamatkan diri ke tempat parkir, sementara otoritas melaporkan sedikitnya 50 orang mengalami cedera; pemerintah Jepang segera mengaktifkan pusat penanganan krisis.
- BMKG Indonesia memastikan gempa Kumamoto tidak berpotensi menimbulkan tsunami di perairan Nusantara, meskipun guncangan dirasakan kuat di wilayah sekitar episentrum.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang melanda Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, Selasa sore, merobohkan sebagian besar bangunan pusat perbelanjaan Aeon Mall dan menyebabkan puluhan orang terjebak di bawah tumpukan reruntuhan. Stasiun televisi NHK menyiarkan rekaman udara yang memperlihatkan kerangka besi gedung yang tersisa setelah dinding luarnya ambrol, sementara atap mall tampak jebol dan menyisakan lubang menganga.
Ledakan dilaporkan terjadi di dalam mal sekitar pukul 18.00 waktu setempat, diikuti kepulan asap putih yang membumbung dari gedung. Dinas pemadam kebakaran setempat menerima puluhan panggilan darurat sesaat setelah gempa utama yang disusul gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,1 kurang dari satu jam kemudian. Sekitar 200 orang dilaporkan berhasil menyelamatkan diri ke lapangan parkir, namun nasib puluhan lainnya masih belum diketahui.
Ketua Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, dalam pernyataan yang dikutip NHK mengatakan pemerintah masih mengonfirmasi situasi dan tingkat kerusakan. โSaat ini kami tengah mengonfirmasi situasi yang terjadi. Kami juga masih mengonfirmasi tingkat kerusakan,โ ujarnya. Sebagai respons, pemerintah Jepang segera membentuk satuan tugas darurat di bawah pusat penanganan krisis Perdana Menteri.
Bagi Indonesia, gempa Kumamoto tidak menimbulkan ancaman tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada potensi gelombang tsunami yang mencapai wilayah Indonesia akibat gempa tersebut. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa besar, mengingat Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang rawan gempa dan tsunami. Pelajaran dari Jepang, yang memiliki sistem peringatan dini gempa dan bangunan tahan gempa yang canggih, menjadi relevan untuk terus diadaptasi di Tanah Air.
Meski kerusakan infrastruktur seperti jalan dan rumah-rumah dilaporkan terjadi, otoritas Jepang memastikan bahwa sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di sekitar lokasi terdampak tidak mengalami gangguan. Hal ini menjadi kabar baik mengingat trauma negara tersebut terhadap kecelakaan nuklir Fukushima pasca-gempa dan tsunami 2011. Lebih dari 50 orang telah dilarikan ke rumah sakit akibat cedera, dan tim penyelamat masih berupaya menjangkau korban yang terjebak di dalam mal yang runtuh sebagian.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah seberapa cepat proses evakuasi dan pencarian korban bisa berlangsung mengingat risiko gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Jepang, dengan pengalaman panjang dalam mitigasi bencana, kembali diuji oleh kekuatan alam yang tak terduga. Sementara itu, bagi Indonesia, peristiwa ini menegaskan urgensi untuk terus memperkuat infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini, terutama di daerah rawan seismik seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa Barat.



