El Nino Lebih Cepat, Pemerintah Perketat Antisipasi Karhutla: Menhut Sebut Tren Luasan Turun Tapi Kewaspadaan Jangan Kendur
Baca dalam 60 detik
- BMKG memprediksi El Nino yang semula diperkirakan terjadi pada 2027 maju ke tahun ini, memicu kekeringan lebih panjang dan risiko karhutla.
- Luas karhutla telah turun signifikan dari 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi 359.619 hektare pada 2025, namun hingga Juni 2026 sudah terbakar 107.465 hektare.
- Enam provinsi dengan lahan gambut luas—Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel—menjadi prioritas utama pencegahan, ditambah NTB dan NTT.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan pemerintah menggencarkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa fenomena El Nino akan terjadi lebih cepat dari perkiraan awal, yakni pada 2026 bukannya 2027. Perubahan jadwal ini berarti kekeringan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, meningkatkan urgensi langkah mitigasi di daerah rawan.
Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, Raja Juli mengungkapkan bahwa koordinasi lintas sektor telah diperkuat. Selain Kementerian Kehutanan, turut hadir pimpinan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta perwakilan TNI dan Polri. Fokus utama adalah mencegah karhutla yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi seperti penutupan bandara serta sekolah.
Meski ancaman meningkat, data menunjukkan tren positif dalam pengendalian karhutla. Menurut catatan Kementerian Kehutanan, luas area terbakar pada 2015 mencapai 2,6 juta hektare, lalu turun menjadi 1,6 juta hektare pada 2019, dan terus menurun hingga 359.619 hektare pada 2025. Namun, hingga Juni 2026, indikasi luas karhutla sudah mencapai 107.465 hektare—angka yang perlu diwaspadai mengingat puncak musim kemarau biasanya terjadi pada Agustus hingga Oktober.
Enam provinsi yang menjadi perhatian khusus adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Wilayah-wilayah ini memiliki hamparan gambut yang luas, sehingga sangat mudah terbakar saat kemarau. Selain itu, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur masuk dalam daftar waspada karena ekosistemnya yang kering meski tidak bergambut. Raja Juli menekankan bahwa perubahan iklim kini nyata dan membutuhkan kerja sama erat semua pihak untuk menekan risiko.
Dampak karhutla tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga regional. Asap dari kebakaran lahan di Indonesia kerap menyebar ke negara tetangga, menyebabkan gangguan kesehatan dan citra internasional. Dari sisi ekonomi, kerugian akibat penutupan bandara, terganggunya transportasi, dan hilangnya produktivitas dapat mencapai triliunan rupiah. Pemerintah pun terus mendorong upaya restorasi gambut dan patroli terpadu sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Ke depan, efektivitas pencegahan sangat bergantung pada konsistensi anggaran, penguatan data real-time, dan keterlibatan masyarakat. Jika El Nino benar-benar terjadi lebih awal, pertanyaannya adalah: apakah koordinasi yang sudah terbangun cukup tangguh untuk menghadapi puncak kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027?



