Protes Palestina Warnai Kedatangan Netanyahu di Washington
Baca dalam 60 detik
- Ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina memadati area sekitar Gedung Putih saat PM Israel Benjamin Netanyahu tiba untuk bertemu Presiden AS Donald Trump.
- Demonstrasi mengecam dukungan militer AS terhadap Israel yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Gaza sejak Oktober 2023.
- Aksi ini menegaskan tekanan internasional terhadap Washington dan Tel Aviv, sekaligus mengingatkan posisi Indonesia yang konsisten membela hak rakyat Palestina.

Gelombang protes pro-Palestina kembali mengguncang Washington ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendarat di kota itu untuk bertemu Presiden Donald Trump, Senin (14/6). Ribuan demonstran berkumpul di luar Gedung Putih sambil meneriakkan tuntutan penghentian bantuan AS kepada Israel, mengibarkan bendera Palestina dan spanduk-spanduk bernada keras.
"Hentikan mesin perang AS/Israel," "Bongkar pengaruh Israel di Washington," dan "Hak asasi manusia Palestina adalah hal yang penting," demikian bunyi beberapa spanduk yang diangkat massa. Aksi ini berlangsung tepat saat Netanyahu memasuki kompleks kepresidenan AS untuk melakukan pembicaraan yang dijadwalkan pada Selasa. Ini adalah pertemuan kedelapan antara Netanyahu dan Trump sejak presiden AS itu terpilih untuk masa jabatan keduanya, menandai kedekatan hubungan kedua pemimpin di tengah kritik global.
Kunjungan Netanyahu kali ini tidak hanya membahas agenda bilateral, tetapi juga menjadi panggung simbolis atas kontroversi kebijakan AS di Timur Tengah. Setelah bertemu Trump, rencananya Netanyahu akan menghadiri upacara peringatan untuk Senator Lindsey Graham, tokoh yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel. Aktivis pro-Palestina menilai setiap agenda ini hanya menegaskan keberpihakan Washington terhadap Tel Aviv.
Bagi Indonesia, gelombang protes ini memiliki resonansi mendalam. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan sejarah panjang dukungan diplomatik terhadap Palestina, aksi di Washington dapat memperkuat desakan publik Indonesia agar pemerintah lebih vokal menuntut gencatan senjata. Meski Jakarta selama ini konsisten menyerukan solusi dua negara, tekanan dari masyarakat sipil terus meningkat agar sikap tersebut diikuti langkah konkret, seperti peninjauan kembali hubungan dagang dengan Israel atau penghentian impor produk tertentu. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa isu Palestina tetap menjadi sentimen domestik yang sensitif.
Ke depan, pertemuan ini berpotensi memperlebar jurang antara kebijakan AS dan opini global. Meski Trump telah menyatakan dukungan penuh terhadap Israel, tidak tertutup kemungkinan meningkatnya tekanan dari basis pemilih domestik, terutama komunitas Muslim dan progresif. Bagi Indonesia, dinamika ini membuka ruang untuk memperkuat diplomasi di forum multilateral, seperti OKI dan PBB, serta mendorong negara-negara lain untuk mengambil sikap lebih tegas. Apakah pertemuan Netanyahu-Trump akan melahirkan kesepakatan baru yang makin mengancam warga Gaza, atau justru menjadi awal tekanan balik dari masyarakat internasional?



