Derek McInnes Mulai Era Baru: Bisakah Hentikan Kutukan Tanpa Trofi Rangers?
Baca dalam 60 detik
- Rangers memulai musim baru dengan pelatih Derek McInnes setelah dua musim tanpa trofi dan serangkaian pergantian pelatih.
- McInnes menghadapi tekanan besar dari penggemar yang haus kesuksesan, meskipun klub telah menggelontorkan dana besar pada bursa transfer.
- Laga perdana melawan Dundee United dan enam pertandingan sebelum duel Old Firm menjadi penentu awal kepercayaan terhadap proyek McInnes.

Rangers mengawali musim 2026-27 dengan tantangan berat: Derek McInnes, pelatih anyar yang diharapkan mampu mengakhiri paceklik trofi, memimpin tim dalam laga tandang melawan Dundee United, Jumat malam (20:00 BST). Sejak menjuarai Liga Skotlandia pada 2021, klub Ibrox itu gagal meraih satu pun gelar utama, dan dua musim terakhir berakhir dengan kekecewaan besar.
Musim lalu, Rangers finis di posisi ketiga klasemen setelah mengalami keruntuhan di fase akhir. Pelatih sebelumnya, Danny Rohl, yang kini pindah ke Red Bull Salzburg, meninggalkan tim dengan empat kekalahan beruntun setelah babak split. Penggemar yang menuntut standar tinggi tidak akan mudah melupakan catatan buruk itu, terlebih setelah klub dilaporkan menggelontorkan dana hingga ยฃ40 juta pada bursa transfer musim panas lalu tanpa hasil yang memadai.
McInnes bukan nama asing di Ibrox. Ia pernah menjadi pemain Rangers pada 1995-2000 dan meraih gelar liga serta piala. Namun, sebagai manajer, ia hanya memiliki satu trofi mayor: Piala Liga Skotlandia 2014 bersama Aberdeen, yang diraih lewat adu penalti. Meski sempat menolak tawaran menangani Rangers pada 2017, ia kini dianggap sebagai pilihan tepat setelah membawa Hearts nyaris merebut gelar juara musim lalu hingga 10 menit terakhir pertandingan.
Mantan gelandang Rangers Andy Halliday menilai waktu perekrutan McInnes sangat tepat. "Dia mungkin akan mengakui dirinya kini lebih matang sebagai pelatih dibanding 2017. Dia telah melalui persaingan gelar, pasang surut, sehingga berada di posisi terbaik untuk mengambil pekerjaan ini," ujar Halliday kepada BBC Scotland. Namun, skeptisisme masih ada di kalangan penggemar yang meragukan kemampuan McInnes memenangi pertandingan besar.
Di Indonesia, tekanan serupa kerap dialami pelatih klub-klub besar seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung. Basis penggemar yang militan dan ekspektasi tinggi menuntut hasil instan, mirip dengan atmosfer di Ibrox. Belanja besar juga menjadi fenomena umum di Liga 1, di mana klub-klub menggelontorkan dana untuk pemain asing mahal namun belum menjamin kesuksesan. Pelajaran dari Rangers bisa menjadi cermin: uang tidak selalu membawa trofi, dan stabilitas manajerial sering kali menjadi kunci.
"Jika saya tidak memenangi trofi, orang lain akan duduk di sini," kata McInnes dalam konferensi pers, mengakui tekanan yang dihadapinya. Ia sadar bahwa dukungan finansial dari konsorsium Amerika Serikat tidak lagi menjadi alasan untuk gagal.
McInnes juga berupaya membangun kembali identitas tim dengan merekrut pemain-pemain Skotlandia berjiwa petarung, seperti Lawrence Shankland dan Ross McCrorieโkeduanya penggemar Rangers sejak kecil. Shankland, yang mencetak rata-rata 20 gol per musim, diharapkan menjadi ujung tombak yang selama ini dirindukan. Namun, Halliday mengingatkan bahwa sebagai striker Rangers, 20 gol adalah standar minimum. "Jika pelayanan untuk Shankland ada, dia sedekat mungkin dengan jaminan striker 20 gol per musim," katanya.
Langkah awal McInnes akan sangat menentukan. Rangers akan memainkan enam pertandingan liga sebelum bertandang ke Celtic pada Old Firm pertama musim ini. Halliday menegaskan bahwa Rangers harus sempurna di setiap laga tersebut. "Terlalu banyak kasus di masa lalu di mana Rangers menghadapi Old Firm pertama musim dengan perasaan harus menang. Tahun ini, sangat penting mereka memenangi setiap pertandingan menjelang laga itu," pungkasnya.



