Kereta Api China-Laos Dongkrak Pariwisata dan Perdagangan ASEAN, Nilai Dagang Meroket 33,8%
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan penumpang dan kargo kereta China-Laos selama musim panas menandai sukses integrasi ekonomi regional.
- Nilai perdagangan melalui jalur ini mencapai 17,17 miliar yuan pada semester I 2026, naik 33,8% secara tahunan.
- Hadirnya rini ini membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memanfaatkan konektivitas darat ASEAN.

Kereta cepat lintas batas China-Laos telah menjadi jalur utama mobilitas musim panas, mendorong lonjakan pariwisata dan perdagangan antara China dengan Asia Tenggara. Data dari China Railway Kunming Group menunjukkan rata-rata 53,2 kereta api beroperasi setiap hari sejak Juli lalu, menghubungkan Kunming dan Xishuangbanna.
Pada periode yang sama, jalur domestik kereta China-Laos mencatat 649.000 perjalanan penumpang, sementara lebih dari 11.000 pelintas tercatat di Pelabuhan Mohan. Untuk mengakomodasi lonjakan ini, stasiun-stasiun utama seperti Xishuangbanna dan Pu'er menyediakan layanan multibahasa—Mandarin, Laos, dan Inggris—serta fasilitas kursi roda dan obat-obatan gratis.
Wisatawan asing pun mulai memanfaatkan kemudahan ini. Max, turis asal Inggris, bersama keluarganya terbang ke Kunming lalu melanjutkan perjalanan darat ke Laos melalui jalur kereta. “Sangat nyaman, kami berencana naik kereta sampai Laos,” katanya. Sementara itu, Lin Ruoyin, pelancong dari Fujian, mengaku terkesan dengan desain tiket dan pengumuman multibahasa di dalam kereta. Proses bea cukai di Pelabuhan Mohan pun kini hanya memakan waktu sekitar 50 menit berkat sistem verifikasi pintar dan jalur swalayan.
Dampak ekonomi tak hanya dirasakan di sektor pariwisata. Perdagangan barang melalui jalur ini tumbuh pesat. Jiang Wei, manajer umum perusahaan jasa kepabeanan di Yunnan, mengatakan volumenya agen pengiriman naik 32% pada semester pertama tahun ini. “Kereta China-Laos memberi kami kepercayaan diri lebih besar untuk berekspansi ke pasar ASEAN,” ujarnya. Perusahaannya kini juga mulai menangani ekspor kendaraan listrik, selain jasa impor buah segar yang terus berkembang.
Bagi Indonesia, keberhasilan jalur kereta China-Laos menjadi momentum untuk merefleksikan strategi konektivitas nasional. Meski Indonesia tengah membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, rute darat ke Laos ini menawarkan integrasi lebih dalam dengan rantai pasok China. Jika Indonesia dapat memanfaatkan koridor ini sebagai jalur alternatif ekspor—misalnya untuk produk pertanian atau komponen baterai—peluang meningkatkan perdagangan bilateral dengan China pun kian terbuka. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan pelaku usaha Indonesia tanggap membaca sinyal ini sebelum pangsa pasar ASEAN lebih dulu direbut oleh negara tetangga?



