Adam Peaty: Legenda Renang Inggris di Persimpangan Jalan, Menanti Kebangkitan di LA 2028?
Baca dalam 60 detik
- Perenang andalan Inggris, Adam Peaty, hanya mampu meraih perunggu di Commonwealth Games Glasgow—jauh dari dominasinya yang sempat tak tersentuh delapan tahun.
- Di usianya yang akan menginjak 33 tahun saat Olimpiade Los Angeles 2028, Peaty dihadapkan pada fakta bahwa hanya segelintir perenang yang sukses merebut emas di usia tersebut.
- Para pengamat menilai Peaty masih menyimpan kecepatan eksplosif, tetapi perlu mengatur ulang pola latihan dan memulihkan aspek mental untuk kembali ke puncak.

Adam Peaty, perenang legendaris asal Inggris yang mendominasi nomor 100 meter gaya dada selama hampir satu dekade, kini berada di titik paling kritis dalam kariernya. Kegagalannya merebut emas di Commonwealth Games 2026 Glasgow—hanya dua medali perunggu—memicu pertanyaan besar: apakah ini awal dari akhir perjalanan salah satu atlet Olimpiade terbesar Britania Raya, atau justru momentum untuk bangkit menuju LA 2028?
Peaty, yang tak pernah terkalahkan di nomor 100m sejak 2014 hingga 2022, mengakui kebingungannya. “Tidak ada yang masuk akal pekan ini,” katanya kepada BBC Sport. Kecepatan dan kemenangan yang dulu begitu mudah diraih kini terasa mustahil. Ia mengisyaratkan perlunya perubahan drastis dalam pendekatan latihan. “Saya bekerja terlalu keras. Saya perlu mengevaluasi itu,” ujar Peaty.
Menurut Karen Pickering, mantan perenang gaya bebas yang meraih gelar Commonwealth terakhir di usia 30 tahun, pernyataan Peaty perlu ditafsirkan secara hati-hati. “Maksudnya, dia melakukan terlalu banyak, bukan terlalu cepat,” kata Pickering. Ia menyarankan Peaty untuk lebih banyak istirahat dan fokus pada pemulihan, termasuk menjaga pola makan, hidrasi, dan teknik mengeluarkan asam laktat. Di sisi lain, Ross Murdoch, mantan perenang gaya dada Skotlandia yang pernah menjadi rival sekaligus rekan latihan Peaty, meragukan kemampuan Peaty untuk mengurangi intensitas latihan. “Saya tahu Adam, dia akan kesulitan menginjak pedal rem,” ujar Murdoch.
Masalah Peaty tidak semata-mata teknis. Setelah mengambil jeda pada 2023 karena masalah kesehatan mental, ia mengaku beban di luar kolam renang turut menguras energinya. Pernikahannya dengan Holly Ramsay tahun lalu tanpa kehadiran orang tua, serta pergantian pelatih dua kali sejak kepergian Mel Marshall ke Australia setelah Olimpiade 2024, menambah kompleksitas situasi. Murdoch menangkap adanya pergeseran prioritas: “Dia bilang kemenangan bukan lagi hal terpenting. Namun, ekspektasi kenyataan tidak sejalan. Di lubuk hatinya, apakah dia benar-benar menganggap renang bukan prioritas? Saya rasa tidak.”
Meskipun hasil di Glasgow mengecewakan, Pickering dan Murdoch sepakat bahwa kecepatan dasar Peaty belum hilang. Pickering melihat celah perbaikan pada teknik start dan posisi tubuh di air yang relatif mudah diperbaiki. “Dulu dia bisa memberikan start 50m kepada lawan dan tetap menang. Kini start-nya biasa saja. Kembali ke dasar adalah solusi sederhana,” katanya. Sementara itu, Peaty sendiri membuka opsi untuk hanya turun di nomor 50m di masa depan, karena sprint biasanya lebih ramah bagi atlet yang lebih tua. Murdoch tetap optimistis: “Kecepatan mentahnya masih ada. Saya tidak akan mencoretnya dari nomor 100m. Kecepatan itu akan kembali saat tubuhnya pulih.”
Peaty telah menyatakan niatnya untuk terus berenang hingga LA 2028. Namun, dengan usia yang akan mencapai 33 tahun saat Olimpiade Los Angeles, ia harus melawan statistik yang tidak berpihak: hanya dua perenang dalam sejarah yang berhasil meraih emas Olimpiade di atas usia 33 tahun. Bisakah Peaty, yang telah menaklukkan batas-batas sebelumnya, kembali menuliskan kejutan? Atau akankah perjalanannya berakhir di tengah jalan? Jawabannya mungkin akan mulai terlihat pada Kejuaraan Eropa bulan depan, di mana ia akan berhadapan langsung dengan juara Olimpiade Nicolo Martinenghi dan generasi baru yang lapar prestasi.



