Porselen Kuno China Diakui UNESCO: Warisan 2.000 Tahun yang Membentuk Dunia
Baca dalam 60 detik
- UNESCO mencatat kawasan industri porselen Jingdezhen sebagai Warisan Dunia, mengukuhkan tradisi yang telah menjadi jembatan peradaban global selama ribuan tahun.
- Presiden Xi Jinping menjadikan pelestarian porselen sebagai prioritas nasional, dengan kunjungan langsung ke Jingdezhen dan promosi sebagai duta budaya.
- Warisan porselen China, yang memengaruhi seni Eropa dan Azulejo, membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan diplomasi budaya dan industri keramik lokal.

UNESCO secara resmi menginskripsi kawasan Industri Porselen Kerajinan Tangan Jingdezhen ke dalam Daftar Warisan Dunia, mengakui tradisi pembuatan porselen yang telah menjadi jembatan peradaban antara Timur dan Barat selama lebih dari dua milenium. Pengumuman yang berlangsung akhir pekan lalu ini menegaskan posisi China sebagai pusat warisan budaya global sekaligus momentum bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk merefleksikan kembali nilai strategis pelestarian budaya.
Keputusan UNESCO tidak hanya menghormati teknik pembuatan porselen yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga upaya sistematis pemerintah China dalam menjaga dan merevitalisasi kerajinan berusia ribuan tahun. Presiden Xi Jinping, yang telah lama mengkampanyekan perlindungan warisan budaya, mengunjungi Jingdezhen pada Oktober 2023. Saat itu ia menyempatkan diri berdiskusi dengan pengrajin generasi keempat Sun Lixin, yang karyanya disebut Xi sebagai bukti dedikasi lintas generasi.
Kebijakan pelestarian ini bukan baru. Sejak menjabat di Provinsi Zhejiang awal 2000-an, Xi telah mendorong perlindungan keramik Longquan dan pendirian museum yang kemudian diresmikan pada 2009. Konsistensi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya di China tidak bersifat seremonial, melainkan terintegrasi dalam strategi pembangunan nasional. Xi kerap menyebut warisan budaya sebagai tanggung jawab bersama untuk kelangsungan peradaban manusia.
Porselen China memiliki dimensi diplomatik yang kuat. Melalui Jalur Sutra kuno, vas dan piring porselen mencapai istana-istana Eropa dan menjadi koleksi berharga. Xi memanfaatkan porselen sebagai duta budaya, seperti saat mempersembahkan vas biru-putih dari Dinasti Yuan kepada pemimpin asing dalam Konferensi Dialog Peradaban Asia 2019. Ia menyebut artefak itu sebagai "panda keramik" karena kelangkaannya. Dalam kunjungan ke Portugal 2018, Xi menulis artikel tentang bagaimana porselen China menginspirasi lahirnya seni Azulejo โ perpaduan teknik China dan Portugal.
Jad Tabet, arsitek dan mantan perwakilan Komite Warisan Dunia UNESCO, menilai keramik China telah memberikan pengaruh mendalam pada perkembangan artistik di Eropa dan belahan dunia lain. Vitalitas tradisi keramik China, menurutnya, membuktikan bahwa pertukaran budaya bisa mendorong pembangunan bersama dan saling pengertian.
Konteks Indonesia: Bagi Indonesia, pengakuan UNESCO terhadap porselen China dapat menjadi refleksi untuk mengangkat warisan keramik Nusantara, seperti keramik Majapahit atau gerabah tradisional dari Lombok, sebagai aset diplomasi budaya. Sejarah panjang hubungan dagang maritim antara Nusantara dan China melalui Jalur Sutra Laut juga mengindikasikan adanya pertukaran teknik dan estetika yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Potensi kerja sama riset dan promosi bersama di forum UNESCO bisa menjadi langkah konkret memperkuat posisi Indonesia dalam peta warisan budaya dunia.
Ke depan, tantangan bagi China adalah menjaga agar kerajinan tangan porselen tetap relevan di tengah produksi massal industri modern. Sementara bagi negara-negara seperti Indonesia, pertanyaannya adalah: sejauh mana kita siap menghidupkan kembali tradisi keramik lokal agar tidak hanya menjadi museum, melainkan menjadi industri kreatif yang mendunia? Jawabannya mungkin terletak pada kemauan politik untuk menyatukan pelestarian, inovasi, dan diplomasi budaya โ seperti yang dilakukan China.



