Pemerintah Luncurkan Sekolah Nasional Terintegrasi di 17 Daerah, Targetkan Pemerataan Mutu Pendidikan
Baca dalam 60 detik
- Mulai tahun ajaran 2026-2027, Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) akan beroperasi di 17 kabupaten/kota di 13 provinsi.
- Program ini menyasar ketimpangan pendidikan yang parah: hanya 4% kecamatan di Indonesia memiliki SMP dan SMA berkualitas baik.
- SNT mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu kurikulum berbasis STEM dan olahraga, serta menjadi pusat pengembangan guru di daerah.

Pemerintah akhirnya memulai implementasi Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di 17 kabupaten/kota pada tahun ajaran 2026-2027, sebuah langkah untuk mengatasi ketimpangan kualitas pendidikan yang selama ini hanya dinikmati oleh segelintir kecamatan di Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa baru sekitar 4 persen kecamatan di tanah air yang memiliki sekolah tingkat SMP dan SMA dengan capaian mutu baik. Angka ini menjadi dasar desakan percepatan pemerataan akses pendidikan berkualitas, terutama di wilayah yang selama ini tertinggal.
SNT dirancang sebagai sekolah yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pembelajaran berkelanjutan. Tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, SNT juga menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam berbasis STEM (sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika) dan olahraga. Dengan demikian, siswa mendapat ruang lebih luas untuk mengembangkan karakter, minat, dan bakat.
Pada tahap awal, proses belajar mengajar akan menggunakan fasilitas yang sudah disiapkan oleh pemerintah pusat dan daerah, sementara pembangunan kampus permanen terus berjalan. Qodari menekankan bahwa prioritas pendaftaran diberikan kepada calon murid yang berdomisili di kabupaten atau kota tempat SNT berada. Hal ini untuk memastikan bahwa program benar-benar menyasar masyarakat setempat dan mengurangi kesenjangan akses.
Selain sebagai sekolah, SNT juga dirancang menjadi pusat pengembangan pendidikan di daerah. Melalui peningkatan kompetensi guru, berbagi praktik baik, pemanfaatan sumber belajar, serta kemitraan dengan sekolah-sekolah di sekitarnya, diharapkan terjadi efek berganda yang memperkuat ekosistem pendidikan secara keseluruhan. Qodari memastikan bahwa SNT melengkapi program-program pemerintah lainnya seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda, bukan tumpang tindih.
Langkah ini mendapat perhatian dari para pengamat pendidikan. Mereka menilai bahwa keberhasilan SNT akan sangat tergantung pada konsistensi pembangunan infrastruktur, kualitas guru, dan keterlibatan pemerintah daerah. Jika berjalan sesuai rencana, SNT bisa menjadi model baru bagi percepatan pemerataan mutu pendidikan di Indonesiaโsebuah tantangan yang telah lama menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah SNT mampu menepati janjinya untuk menjadi pusat keunggulan di daerah, atau justru tersendat oleh masalah klasik seperti distribusi guru dan anggaran. Satu hal yang pasti: dengan hanya 4% kecamatan yang terlayani baik, masih ada ribuan kecamatan lain yang menunggu giliran.



