PHK di Singapura Tembus Level Tertinggi Sejak 2020, Pasar Tenaga Kerja Tetap Ekspansif
Baca dalam 60 detik
- Angka PHK kuartal II-2026 mencapai 4.500, tertinggi sejak akhir 2020, didorong restrukturisasi bisnis di sektor teknologi dan manufaktur.
- Meski PHK naik, total lapangan kerja tumbuh 10.700, ditopang pekerja asing di konstruksi dan manufaktur, sementara pertumbuhan pekerja lokal melambat.
- Ekspektasi bisnis membaik: lebih banyak perusahaan berencana merekrut dan menaikkan gaji, namun tetap di bawah level sebelum krisis energi akibat perang Iran.

Singapura mencatat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar sejak akhir 2020 pada kuartal kedua 2026, meskipun pasar tenaga kerja negeri itu masih menunjukkan ekspansi. Data Kementerian Tenaga Kerja (MOM) yang dirilis 31 Juli mengungkapkan 4.500 pekerja kehilangan pekerjaan pada periode AprilโJuni, melonjak 17,5 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya yang mencapai 3.830 orang.
Fenomena ini terkonsentrasi di sektor-sektor yang berorientasi keluar, seperti informasi dan komunikasi serta manufaktur. Menurut MOM, pemicu utamanya adalah restrukturisasi bisnis, bukan pelemahan ekonomi secara menyeluruh. Namun, angka ini menjadi sinyal bahwa transformasi industri dan tekanan biaya masih menghantui perusahaan-perusahaan di kota-negara tersebut.
Di sisi lain, total lapangan kerja โ mencakup warga negara, penduduk tetap, dan pekerja asing โ bertambah 10.700 pada kuartal yang sama, lebih tinggi dari 9.400 pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini hampir setara dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 10.400. Menariknya, pertumbuhan pekerja lokal (warga negara dan PR) justru melambat, sementara hampir seluruh tambahan lapangan kerja baru diserap oleh pekerja asing di sektor konstruksi dan manufaktur.
Kondisi ini menciptakan paradoks: PHK meningkat, tetapi pasar kerja tetap tumbuh. Analis menilai hal ini mencerminkan pergeseran struktural, di mana perusahaan lebih memilih merekrut pekerja asing dengan biaya lebih rendah untuk posisi tertentu, sementara pekerja lokal menghadapi persaingan lebih ketat. Tingkat pengangguran pada Juni 2026 tetap stabil di angka 2 persen, menunjukkan bahwa mereka yang terkena PHK relatif cepat mendapatkan pekerjaan baru.
Survei MOM terhadap ekspektasi bisnis memberikan secercah optimisme. Proporsi perusahaan yang berencana merekrut dalam tiga bulan ke depan naik dari 40,6 persen pada Mei menjadi 43,9 persen pada Juni. Demikian pula, perusahaan yang berniat menaikkan gaji meningkat dari 23,7 persen menjadi 29,3 persen. Sebaliknya, proporsi perusahaan yang memperkirakan akan melakukan PHK turun dari 3,2 persen menjadi 2,7 persen.
"Secara keseluruhan, perbaikan ekspektasi perekrutan, upah, dan PHK menunjukkan permintaan tenaga kerja yang tetap tangguh," ujar MOM dalam pernyataannya. Namun, lembaga itu mengingatkan bahwa indikator-indikator tersebut masih berada di bawah level sebelum krisis energi yang dipicu perang Iran pada akhir Februari, sehingga perusahaan diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan rekrutmen dan penggajian dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, dinamika pasar tenaga kerja Singapura memiliki implikasi langsung. Sebagai salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia (PMI), kebijakan rekrutmen di sektor konstruksi dan manufaktur Singapura akan memengaruhi arus remitansi dan lapangan kerja bagi jutaan tenaga kerja Indonesia. Selain itu, tren PHK di sektor teknologi Singapura dapat menjadi sinyal bagi pekerja Indonesia di industri serupa, mengingat banyak perusahaan teknologi regional yang beroperasi di kedua negara.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah perbaikan ekspektasi bisnis akan berkelanjutan atau hanya sekadar respons jangka pendek. Dengan tensi geopolitik yang masih memanas dan dampak perang Iran terhadap harga energi, perusahaan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu mencermati apakah pola PHK dan perekrutan selektif di Singapura akan menular ke pasar domestik. Apakah Indonesia akan mengalami tren serupa, atau justru menjadi tujuan pelarian investasi yang lebih stabil? Waktu yang akan menjawab.



