Miley Cyrus Akui Dulu Terobsesi Menyelamatkan Dunia, Kini Lebih Realistis
Baca dalam 60 detik
- Miley Cyrus mengakui tekanan berlebih di masa muda untuk mengubah dunia melalui panggungnya, namun kini menyadari perubahan butuh partisipasi kolektif.
- Lewat Happy Hippie Foundation yang didirikan tahun 2014, ia fokus pada tunawisma remaja dan komunitas LGBTQ, didorong oleh pengalaman pribadi.
- Penyanyi 33 tahun itu mendorong setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan, tanpa takut salah langkah, demi dampak jangka panjang.

Miley Cyrus, penyanyi pop berusia 33 tahun, mengakui bahwa dirinya pernah dibebani misi pribadi untuk 'menyelamatkan' dunia di masa mudanya. Dalam wawancara dengan Wonderland Magazine, ia mengungkapkan tekanan besar yang ia rasakan saat menggunakan platformnya untuk perubahan sosial. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa perubahan yang bermakna tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan membutuhkan kesabaran dan kontribusi banyak pihak.
“Dulu saya menekan diri sendiri untuk ‘menyelamatkan’ dunia melalui panggung yang saya miliki,” ujar Miley. “Kini saya paham bahwa perubahan terjadi ketika setiap orang melakukan bagiannya. Saya berkomitmen menjaga sisi saya tetap bersih dan menggunakan panggung untuk membuat belas kasih tampak menginspirasi, karena motivasi itu menular.” Pernyataan ini keluar di tengah sorotan terhadap aktivisme selebritas yang kerap dianggap dangkal.
Miley juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang takut terlibat dalam isu sosial karena khawatir tidak melakukan hal yang benar. “Saat ini banyak penghakiman, sehingga orang takut berpartisipasi kecuali mereka tahu persis apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Saya tidak percaya ada satu cara yang benar. Lakukan apa yang ada dalam kekuatan Anda,” tegasnya. Pesan ini relevan di era di mana tekanan untuk sempurna justru menghambat aksi nyata.
Happy Hippie Foundation, organisasi nirlaba yang ia dirikan sejak 2014, menjadi wadah nyata perubahan itu. Miley mengaku terinspirasi oleh pengalaman sehari-hari di Los Angeles, di mana tunawisma sangat terlihat. “Setiap hari kota ini mengingatkan saya bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” katanya. Selain itu, dukungan terhadap pemuda LGBTQ berasal dari identitasnya sendiri sebagai bagian dari komunitas tersebut. “Kadang orang butuh sumber daya, kadang butuh komunitas, atau sekadar diingatkan bahwa mereka berharga.”
Di Indonesia, isu tunawisma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan juga menjadi tantangan. Meskipun pendekatan dan konteksnya berbeda, semangat Miley untuk melibatkan diri secara langsung—bukan sekadar seruan—bisa menjadi inspirasi bagi publik Indonesia. Banyak figur publik di Tanah Air mulai aktif dalam isu sosial, namun masih ada ruang untuk aksi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Miley menaruh harapan besar pada yayasannya. “Impian terdalam saya adalah menghormati ibu dan nenek melalui pekerjaan ini,” ujarnya. Fokus saat ini adalah Downtown Women’s Center di Los Angeles, di mana ia dan ibunya membantu merombak ruangan dengan furnitur baru yang memberikan martabat dan kenyamanan. “Saya ingin menciptakan rumah, tempat yang berjiwa, yang mengingatkan orang bahwa mereka layak mendapatkan hal-hal indah.” Ke depannya, fondasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan, mengingat kebutuhan yang terus bertambah.
Namun, pertanyaan besarnya: apakah model aktivisme selebritas seperti ini bisa bertahan tanpa jatuh ke dalam retorika belaka? Miley sendiri mengakui bahwa perubahan nyata membutuhkan konsistensi dan kerja sama semua pihak. Bagi publik, pekerjaan rumah masih menanti: memastikan bahwa setiap ‘bagian jalan’ benar-benar bersih dan tidak hanya menjadi pencitraan.



