Macron Tegaskan Pertempuran Lawan Kebakaran Hutan Belum Usai, 220.000 Jiwa Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan Presiden Prancis ke posko kebakaran di barat daya mengungkapkan skala bencana terparah sejak Perang Dunia II, dengan area terbakar empat kali lipat luas Kota Paris.
- Gelombang panas bertubi-tubi dan kondisi kering membuat api sulit dipadamkan, memicu pengungsian massal lebih dari seperempat juta jiwa di Prancis dan Spanyol.
- Pakar lingkungan dan pemimpin negara mendesak aksi iklim global yang lebih tegas, sementara kobaran api juga mulai melanda Italia dan mengancam musim liburan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendatangi pusat koordinasi pemadaman kebakaran hutan di Lege-Cap Ferret, barat daya Prancis, Senin (28/7), untuk memberikan semangat kepada ribuan petugas pemadam. Ia memperingatkan bahwa perjuangan melawan kobaran api yang telah berlangsung selama sepekan masih jauh dari selesai. "Kita akan memenangkan pertempuran ini bersama-sama," ujarnya, seraya menekankan bahwa minggu-minggu mendatang akan berat.
Api yang melanda kawasan hutan pinus dan semak belukar di region Gironde ini telah membakar area seluas lebih dari 18.000 hektar—setara empat kali luas Kota Paris. Tidak kurang dari 220.000 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadikannya krisis kebakaran terburuk yang dialami Prancis sejak Perang Dunia II. Kepala pemadam kebakaran Gironde melaporkan bahwa api bergerak tidak menentu dan bahkan memicu badai petir yang menyebabkan titik api baru.
Macron menyebut kebakaran ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. "Kami menghadapi api yang sama sekali belum pernah kami lihat," katanya. Ia memuji kerja keras regu pemadam yang berhasil menghentikan laju api pada Senin, namun mengingatkan bahwa hutan yang mengering akibat gelombang panas berturut-turut tahun ini masih menyisakan ancaman besar. Otoritas setempat pun melarang segala bentuk perkemahan anak-anak dan penyandang disabilitas di kawasan tersebut, serta mengimbau wisatawan untuk tidak berkunjung ke wilayah yang terkenal dengan pantai Atlantik dan kebun anggurnya itu.
Situasi serupa terjadi di Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa apa yang dialami kedua negara bukanlah insiden terisolasi. "Ini adalah konsekuensi dari darurat iklim yang membuat kebakaran hutan semakin dahsyat dan gelombang panas semakin sering," ujarnya. Api di Avila, barat Madrid, telah menjadi yang terbesar dalam sejarah Spanyol dengan luas 500 kilometer persegi—lima kali lipat luas Kota Barcelona. Secara keseluruhan, kebakaran di Spanyol dan Prancis telah memaksa lebih dari 330.000 orang meninggalkan rumah mereka.
"Lihatlah bagaimana lembah itu terbakar. Lihat rumah-rumah dan orang-orangnya. Kami merasakan banyak kemarahan dan ketidakberdayaan. Ini sesuatu yang tidak manusiawi," ujar David Gonzalez, seorang warga yang mengirimkan pasokan ke petugas pemadam di Avila.
Menteri Ekologi Spanyol, Sara Aagesen, melaporkan bahwa luas area yang terbakar sepanjang tahun ini telah mencapai 1.530 kilometer persegi—enam kali lipat dibandingkan semester pertama 2025. Gelombang panas keempat yang diperkirakan mulai Selasa akan meningkatkan risiko kebakaran lebih lanjut. Di Italia, kobaran api yang dipicu angin kencang juga melanda kawasan Peschici, Puglia, memaksa evakuasi sekitar 300 turis dari pantai dan perkemahan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Musim kemarau panjang akibat fenomena iklim global kerap memicu kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, yang tidak hanya mengancam ekosistem tetapi juga kesehatan masyarakat akibat kabut asap. Langkah mitigasi terpadu—mulai dari penguatan sistem peringatan dini, penyediaan sumber daya pemadaman, hingga penegakan hukum terhadap pembakaran lahan—menjadi krusial untuk mencegah bencana serupa.
Pertanyaan mendesak yang kini mengemuka: sejauh mana komitmen negara-negara maju dan berkembang dalam menekan emisi karbon untuk memperlambat laju perubahan iklim? Tanpa aksi nyata, gelombang panas dan kebakaran hutan diprediksi akan semakin sering melanda berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.



