Banjir Terburuk dalam Enam Dekade Landa Assam, 68 Tewas dan Ratusan Ribu Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Banjir dahsyat melanda Assam, India timur laut, sejak pertengahan Juli, menewaskan sedikitnya 68 orang dan memaksa lebih dari 600.000 jiwa mengungsi.
- Curah hujan ekstrem mencapai 490% di atas normal, diperparah deforestasi hulu dan tanggul tua, menjadikan bencana ini yang terparah dalam 60 tahun terakhir.
- Para ahli memperingatkan perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir di dataran banjir Brahmaputra, sebuah ancaman yang relevan bagi Indonesia dengan kondisi geografis serupa.

Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu hujan deras sejak pertengahan Juli telah melumpuhkan kehidupan di negara bagian Assam, India timur laut, dengan jumlah korban tewas mencapai 68 orang dan lebih dari 600.000 warga terdampak. Bencana yang disebut sebagai yang terburuk dalam enam dekade terakhir ini menyisakan kepiluan dan ancaman kemanusiaan yang meluas.
Hujan dengan intensitas luar biasaโ435 hingga 490 persen di atas normalโmengguyur wilayah Assam dan Nagaland dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan sungai-sungai besar seperti Brahmaputra dan anak-anaknya meluap dengan cepat. Dalam satu hari saja, 21 Juli, sebanyak 21 orang dilaporkan tewas, sebagian besar terseret arus atau tenggelam di rumah mereka sendiri. Pemerintah setempat menyebut sekitar 40 orang lainnya masih hilang dan proses pencarian terus berlangsung.
Kisah-kisah dramatis bermunculan dari lokasi bencana. Rekhamoni Gogoi, seorang ibu dari desa Holang Katoni, Sivasagar, terpaksa memanjat pohon mangga bersama putranya yang berusia tujuh tahun selama 12 jam tanpa makanan dan air. Dalam kegelapan malam, ia bertekad melindungi anaknya dengan cara apa pun. "Anak saya lebih berharga dari hidup saya sendiri," ujarnya kepada media lokal, setelah akhirnya dievakuasi ke kamp pengungsian.
Menurut para ahli, banjir tahunan di Assam sebenarnya sudah menjadi siklus alamiah karena letak geografisnya di dataran banjir Brahmaputra. Namun, intensitas bencana tahun ini diperparah oleh deforestasi di daerah hulu, tanggul yang menua, dan curah hujan ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Menteri Pekerjaan Umum Assam, Pijush Hazarika, menyebut ini sebagai bencana terburuk dalam 60 tahun terakhir. Kepala Menteri Himanta Biswa Sarma telah mengerahkan para menteri ke distrik-distrik terdampak untuk mempercepat rehabilitasi.
Indonesia pun tak luput dari ancaman serupa. Dengan topografi berupa dataran banjir sungai besar seperti Bengawan Solo dan Citarum, serta curah hujan tinggi saat musim hujan, risiko banjir bandang dan tanah longsor menghantui banyak wilayah. Deforestasi dan pembangunan di daerah aliran sungai (DAS) juga menjadi faktor yang memperparah dampak. Pelajaran dari Assam menunjukkan pentingnya pengelolaan DAS yang terpadu, penguatan tanggul, dan sistem peringatan dini berbasis komunitas untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Ke depan, pemerintah Assam mengalihkan fokus dari penyelamatan ke rehabilitasi jangka panjang, namun bagi warga seperti Shalini Patra, seorang remaja 18 tahun yang kehilangan rumah orang tuanya, masa depan terasa suram. "Orang tua saya bertahun-tahun membangun rumah itu. Sekarang semuanya hilang. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali," keluhnya. Pertanyaan besarnya: akankah dunia belajar dari tragedi berulang ini, atau kita akan terus menyaksikan lebih banyak nyawa dan harta benda melayang?



