Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz, AS Hentikan Pengeboman Tanpa Kejelasan
Baca dalam 60 detik
- Trump menghentikan kampanye pengeboman dua minggu setelah militer AS kehabisan target dan amunisi pertahanan udara.
- Iran menolak klaim 'memohon negosiasi', memutar balik enam kapal asing, dan menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz.
- Harga minyak Brent merosot lebih dari delapan persen, namun ketidakpastian masih membayangi pasokan energi global.

Iran menegaskan masih memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak berminat kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat, sehari setelah Presiden Donald Trump menghentikan kampanye pengeboman selama dua minggu yang menurut jajaran militernya sudah mencapai batas efektivitas.
Keputusan Trump menghentikan operasi militer yang menargetkan posisi-posisi Iran di sekitar selat strategis itu diambil setelah para komandan melaporkan kehabisan sasaran dan kekhawatiran menipisnya amunisi pertahanan udara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers Senin (27/7) membantah keras klaim Washington bahwa Teheran "memohon kesepakatan". "Laporan tentang Iran meminta negosiasi dengan AS adalah palsu. Ini bukan DNA kami," ujarnya.
Gencatan senjata sepihak ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh 100 dolar AS per barel pekan lalu merosot lebih dari 8% menjadi di bawah 89 dolar AS pada Senin pagi. Para analis memperkirakan jika ketegangan mereda, pasokan minyak dari kawasan Teluk bisa kembali normal, meskipun risiko gangguan masih tinggi.
Iran menunjukkan sikapnya masih mengendalikan jalur pelayaran vital itu dengan memutar balik enam kapal yang dianggap "melanggar" pada Senin pagi. Media pemerintah Iran mengutip sumber yang menyebut salah satu kapal mengalami "kecelakaan". "Rute lalu lintas di Selat Hormuz adalah rute yang ditentukan Iran; rute lain terkontaminasi dan buntu," demikian pernyataan yang beredar.
Perbedaan interpretasi atas kesepakatan kerangka perundingan Juni lalu menjadi akar konflik. Washington menuntut kebebasan navigasi penuh, sementara Iran mengklaim berhak mengawasi dan memungut biaya lintas. Teheran bahkan berupaya meresmikan kontrolnya melalui kesepakatan bilateral dengan Oman, yang delegasinya baru saja berkunjung ke Teheran.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung pada ketahanan energi. Sebagai importir minyak mentah, setiap gejolak harga minyak akan membebani anggaran subsidi dan neraca pembayaran. Pemerintah perlu mengantisipasi fluktuasi harga dengan memperkuat cadangan strategis dan mempercepat diversifikasi sumber impor.
Dengan dihentikannya pengeboman, belum jelas alat tawar apa yang dimiliki Washington untuk mematahkan cengkeraman Iran di selat tersibuk dunia itu. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pekan ini untuk membahas kelanjutan perang yang dimulai Februari lalu. Pertanyaannya, akankah jeda ini bertahan atau justru menjadi awal babak baru ketegangan yang lebih kompleks?



