Kekacauan FIGC: Simonelli Akui Tahu Pengunduran Diri Maldini dari Televisi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Lega Serie A, Ezio Simonelli, mengaku mengetahui pengunduran diri Paolo Maldini dan Leonardo dari jabatan di FIGC melalui siaran televisi, meski ia mengaku sudah menduga sebelumnya.
- Kekacauan dipicu oleh batalnya penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih timnas Italia, yang menjadi andalan Maldini dan Leonardo dalam struktur kepelatihan.
- FIGC kini diprediksi akan menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih baru, sementara posisi direktur teknis masih menjadi teka-teki.

Kekacauan di Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mencapai puncaknya setelah pengunduran diri Paolo Maldini dan Leonardo dari jabatan mereka dikonfirmasi. Presiden Lega Serie A, Ezio Simonelli, mengaku mengetahui kabar mengejutkan itu bukan dari saluran resmi, melainkan dari layar kaca. “Kami tahu dari televisi,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa isu tersebut sudah lama mengemuka.
Hanya empat hari sebelum kejadian, Simonelli bersama Presiden FIGC Giovanni Malagò, direktur teknis Club Italia, dan penasihat khusus Leonardo, masih mempresentasikan proyek pembinaan tim nasional kepada klub-klub Serie A. Namun, dalam sekejap, rencana itu berantakan setelah Andrea Pirlo diblokir sebagai kandidat pelatih timnas Italia. Keputusan itu membuat Maldini dan Leonardo, yang selama ini menjadi motor di belakang layar, memilih mundur.
Simonelli—yang juga menjabat sebagai kepala Lega Serie A—tak menampik kekecewaannya. “Memilih Maldini adalah langkah brilian. Ia sosok berintegritas yang seharusnya tetap bersama kami demi kemajuan sepak bola Italia,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa setelah mundurnya dua figur kunci tersebut, belum ada nama pasti yang diajukan untuk menggantikan pelatih. “Kami hanya membahas kriteria, bukan nama,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden FIGC Malagò dilaporkan meninggalkan ruang rapat melalui pintu belakang untuk menghindari kerumunan wartawan. Ia diperkirakan akan segera menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih anyar, dan baru setelah itu menentukan siapa yang akan mengisi pos direktur teknis yang ditinggalkan Leonardo.
Kisruh ini mengingatkan pada dinamika serupa di Indonesia, di mana campur tangan politik dan kepentingan pribadi seringkali menghambat kesinambungan program pembinaan di PSSI. Ketidakjelasan suksesi pelatih dan struktur organisasi membuat sepak bola nasional sulit berkompetisi di level tertinggi. Jika FIGC tidak segera merapikan barisan, bukan tidak mungkin Italia akan terpuruk lebih dalam—seperti yang pernah dialami saat gagal lolos ke Piala Dunia 2018.
Ke depan, seluruh mata tertuju pada langkah Malagò. Apakah ia mampu menyatukan kembali faksi-faksi yang bertikai? Ataukah kekacauan ini justru menjadi awal dari era baru yang lebih stabil? Satu hal yang pasti: sepak bola Italia sedang berada di persimpangan jalan, dan pilihan yang diambil dalam beberapa hari ke depan akan menentukan nasib timnas di kancah internasional.



