Amazon Leo Gebrak Pasar Satelit: 5.105 Satelit untuk Koneksi Langsung ke Ponsel
Baca dalam 60 detik
- Amazon Leo mengajukan permohonan ke FCC untuk mengorbitkan 5.105 satelit guna menyediakan layanan suara, data, dan darurat langsung ke ponsel, dengan target operasi pada 2028.
- Layanan ini akan memanfaatkan spektrum Globalstar dan menggandeng operator seluler global, bersaing langsung dengan SpaceX, AST SpaceMobile, dan Lynk Global.
- Bagi Indonesia, teknologi direct-to-phone berpotensi menjembatani kesenjangan digital di daerah terpencil, meski kendala kapasitas peluncuran roket masih membayangi.

Amazon Leo, unit bisnis satelit raksasa e-commerce Amazon, resmi melayangkan proposal kepada Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) untuk membangun konstelasi hingga 5.105 satelit yang dirancang memberikan koneksi langsung ke ponsel pintar tanpa perlu infrastruktur darat tambahan.
Rencana ini menandai langkah besar Amazon untuk merambah pasar layanan seluler satelit langsung ke perangkat (direct-to-device), yang diprediksi bakal merevolusi akses komunikasi di daerah tanpa jangkauan jaringan telepon seluler. Dalam dokumen yang diajukan, Amazon Leo menjadwalkan penggelaran satelit pertama pada 2028 dan mengincar kerja sama dengan operator telekomunikasi global.
Konstelasi ini akan mencakup layanan suara, pesan teks, data, dan panggilan darurat—mirip dengan layanan yang sudah diperkenalkan oleh pesaingnya, SpaceX, melalui jaringan Starlink yang bekerja sama dengan T-Mobile. Amazon Leo telah mengakuisisi spektrum milik Globalstar, perusahaan yang selama ini menjadi mitra Apple untuk fitur darurat di iPhone.
“Amazon seharusnya fokus membereskan urusan mereka sendiri dengan peluncuran dan konstelasi mereka, daripada mengkhawatirkan pihak lain yang benar-benar meluncurkan satelit dengan kecepatan seperti SpaceX,” ujar Brendan Carr, Ketua FCC, dalam pernyataan Maret lalu, menanggapi kritik Amazon terhadap rencana SpaceX yang mengajukan izin untuk hingga 1 juta satelit.
Persaingan di segmen direct-to-phone semakin memanas. SpaceX melalui Starlink sudah menguji coba layanan pesan teks langsung ke ponsel, AST SpaceMobile telah meluncurkan satelit uji, dan Lynk Global mengklaim telah melakukan panggilan suara dari orbit. Amazon Leo yang masih dalam tahap awal penggelaran satelit broadband generasi pertama—baru memiliki sekitar 390 satelit di orbit—berupaya mengejar ketertinggalan.
Salah satu hambatan utama yang dihadapi semua pemain adalah kelangkaan kapasitas peluncuran roket. Dengan ribuan satelit yang perlu ditempatkan di orbit rendah Bumi, jadwal peluncuran menjadi krusial. Amazon sebelumnya telah memesan roket dari Blue Origin (milik Jeff Bezos), United Launch Alliance, dan Arianespace, namun realisasinya masih belum maksimal.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, kehadiran layanan direct-to-phone dapat menjadi solusi konektivitas di wilayah timur dan pedalaman yang minim infrastruktur telekomunikasi. Operator seluler tanah air seperti Telkomsel, Indosat, atau XL Axiata berpotensi menjalin kemitraan dengan Amazon Leo atau kompetitornya untuk menjangkau pelanggan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Namun, regulasi penggunaan spektrum frekuensi oleh satelit asing di Indonesia masih perlu disesuaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Keunggulan layanan jenis ini adalah tidak memerlukan perubahan perangkat keras ponsel—cukup dengan ponsel biasa yang mendukung koneksi satelit. Jika terealisasi, maka panggilan darurat dan akses data dasar bisa dinikmati di area yang selama ini tidak tersentuh jaringan seluler.
Amazon Leo sendiri sudah mulai menggandeng mitra regional, termasuk Australia’s National Broadband Network, yang menunjukkan potensi ekspansi ke kawasan Asia-Pasifik. Langkah Amazon ini sekaligus mempertegas bahwa kompetisi layanan satelit langsung ke ponsel bukan lagi sekadar wacana, melainkan mulai mendekati realitas komersial.
Ke depan, pertanyaan terbesarnya adalah: bisakah Amazon Leo mengejar ketertinggalan peluncuran dan memperoleh persetujuan regulasi di berbagai negara tepat waktu? Atau, justru pemain lain seperti SpaceX yang akan mendominasi pasar direct-to-phone global?



