Super Falcons Buru Gelar ke-11 Piala Afrika: Target Lolos Piala Dunia 2027
Baca dalam 60 detik
- Nigeria, peraih 10 dari 13 gelar Piala Afrika Wanita, memulai kampanye di Maroko untuk mempertahankan mahkota sekaligus mengamankan tiket ke Piala Dunia 2027.
- Turnamen yang diperluas menjadi 16 tim ini juga menjadi ajang kualifikasi, dengan empat semifinalis otomatis melaju ke Brasil tahun depan.
- Dehutan Malawi bersama duet Chawinga serta Zambia dengan lini depan tajam menjadi ancaman serius bagi dominasi Nigeria.

Nigeria, tim paling disegani di sepak bola wanita Afrika, mengawali petualangan di Piala Afrika Wanita (Wafcon) 2026 di Maroko dengan misi ganda: mempertahankan gelar juara sekaligus merebut tiket ke Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Sebagai pemegang rekor 10 gelar dari 13 edisi, Super Falcons tak hanya membawa beban ekspektasi, tetapi juga kesadaran bahwa setiap lawan ingin menjatuhkan mereka.
“Sekarang kami juara, setiap tim ingin mengalahkan kami,” ujar pelatih kepala Justin Madugu, yang tahun lalu memimpin Nigeria menaklukkan tuan rumah Maroko 3-2 di final. Namun Madugu menegaskan timnya sudah siap menghadapi tekanan. “Kami sadar itu tidak mudah, dan kami akan benar-benar siap,” katanya kepada BBC Sport Africa. Nigeria tergabung di Grup C bersama Malawi, Zambia, dan Mesir. Laga perdana melawan Malawi, tim debutan, akan menjadi ujian awal.
Yang membuat edisi ini semakin krusial, Wafcon 2026 sekaligus menjadi babak kualifikasi Piala Dunia. Empat tim yang mencapai semifinal dipastikan terbang ke Brasil tahun depan. Gelandang sayap Francisca Ordega mengakui prioritas utama adalah lolos ke Piala Dunia, baru kemudian memikirkan mempertahankan gelar. “Kami tidak dalam tekanan. Kami bisa mengimbangi tim mana pun di Afrika,” ujarnya. Nigeria adalah satu-satunya negara Afrika yang tampil di sembilan edisi Piala Dunia Wanita sejak 1991, dan pada 2023 mereka menjadi bagian dari rekor empat wakil Afrika.
Meski diperkuat bintang seperti kapten Rasheedat Ajibade, penjaga gawang terbaik Afrika Chiamaka Nnadozie, dan enam kali pemain terbaik Afrika Asisat Oshoala, Nigeria tidak bisa lengah. Malawi, meski berperingkat rendah, memiliki senjata mematikan: saudari Tabitha dan Temwa Chawinga. Tabitha membawa Lyon juara liga Prancis, sementara Temwa meraih sepatu emas dan MVP di Liga Amerika Serikat (NWSL). Zambia juga mengandalkan duet Barbra Banda dan Racheal Kundananji yang sama-sama bermain di AS. “Kamu tidak boleh meremehkan siapa pun,” kata Madugu. Ajibade menambahkan bahwa kelolosan Malawi menunjukkan kemajuan mereka.
Dominasi Nigeria di Afrika bisa menjadi pelajaran bagi sepak bola wanita Indonesia yang masih merangkak naik. Prestasi konsisten Super Falcons—dibangun dari pembinaan usia muda, kompetisi domestik yang kompetitif, dan eksposur pemain di liga Eropa serta Amerika—menunjukkan pentingnya investasi jangka panjang. Di Asia Tenggara, Indonesia masih berjuang untuk tampil di Piala Asia, apalagi Piala Dunia. Namun, keberhasilan negara seperti Nigeria membuktikan bahwa dengan perencanaan serius, kesenjangan bisa diperkecil.
Nigeria datang dengan persiapan lebih matang dibanding edisi sebelumnya, setelah menjalani sejumlah uji coba melawan Kamerun, Senegal, dan Tanzania. Pelatih Madugu juga memadukan pemain senior dengan wajah baru, seperti kiper 21 tahun Comfort Erhabor yang lahir di Belanda dan besar di Inggris. Namun, mereka kehilangan bek tengah Ashleigh Plumptre karena cedera kaki. Selain itu, tim diguncang insiden pencurian setelah tiba di Maroko, di mana penyerang Esther Okoronkwo dilaporkan kehilangan ratusan dolar. Meski begitu, dengan hadiah juara yang digandakan menjadi USD 2 juta, turnamen ini menandai pertumbuhan pesat sepak bola wanita Afrika. Pertanyaannya: mampukah Nigeria mempertahankan mahkota di tengah persaingan yang kian ketat, atau akan ada juara baru yang muncul?



