Investigasi Ambruknya Tribun VIP Drift Speed Fest: Panitia Siap Bertanggung Jawab Penuh
Baca dalam 60 detik
- Panitia Drift Speed Fest menyatakan mendukung investigasi kepolisian atas ambruknya tribun VIP yang menewaskan puluhan korban di Purwokerto.
- Sejauh ini, 50 korban telah dipulangkan, sementara 40 lainnya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit.
- Kejadian ini menjadi sorotan terhadap standar keselamatan penyelenggaraan acara di Indonesia, khususnya konstruksi tribun darurat.

Ambruknya tribun VIP dalam ajang Drift Speed Fest di Kompleks GOR Satria, Purwokerto, Minggu (26/7) lalu, mendorong panitia pelaksana untuk buka suara. Dalam konferensi pers di Purwokerto, Senin malam, Ketua Panitia Yoshua Ernest Yonathan menegaskan pihaknya mendukung penuh investigasi yang dilakukan Polresta Banyumas. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarga, serta menjamin bahwa seluruh biaya perawatan ditanggung panitia tanpa membebani korban.
Yoshua menjelaskan bahwa acara selebrasi yang berlangsung sebelum insiden merupakan bagian dari rangkaian biasa dalam kejuaraan drifting. Namun, ia mengakui bahwa peristiwa ini menjadi evaluasi besar, terutama terkait konstruksi tribun yang disiapkan vendor. โKami akan meninjau ulang prosedur keselamatan untuk kegiatan serupa ke depannya,โ ujarnya. Wakil Ketua Panitia Putri Danizar menambahkan bahwa parade dan pembagian merchandise sudah lazim dilakukan di berbagai ajang sebelumnya, sehingga insiden ini tidak terkait dengan peserta atau drifter.
Hingga Senin malam, sekitar 50 korban sudah diperbolehkan pulang, sementara 40 lainnya masih dirawat di sejumlah rumah sakit. Panitia telah membagi tim untuk mendampingi korban, membantu administrasi, dan menjalin komunikasi dengan keluarga. Bupati Banyumas bersama Panitia juga mendatangi 11 rumah sakit untuk meninjau langsung kondisi korban. Acara Drift Speed Fest sendiri dihentikan karena force majeure, dengan penilaian berdasarkan kualifikasi yang telah berjalan.
Insiden ini kembali menyoroti standar keselamatan penyelenggaraan acara di Indonesia, khususnya penggunaan tribun darurat. Meskipun panitia mengklaim telah mengikuti regulasi teknis, ambruknya struktur menunjukkan adanya celah dalam pengawasan konstruksi. Kasus serupa pernah terjadi di berbagai daerah, menimbulkan pertanyaan tentang prosedur perizinan dan inspeksi keselamatan oleh pihak berwenang. Publik pun menanti hasil investigasi kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti dan menentukan langkah hukum.
Ke depan, hasil investigasi akan menjadi acuan bagi pembenahan regulasi keselamatan acara publik. Pertanyaan mendasar yang tersisa: apakah ada kelalaian dalam proses konstruksi atau pengawasan dari pihak terkait? Penyelenggara dan pemerintah daerah kini diuji untuk memastikan tragedi serupa tak terulang.


