Megawati Resmikan Monumen Kudatuli, Tabur Bunga untuk Korban 27 Juli 1996
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di depan kantor DPP PDIP, Jakarta, sebagai simbol perjuangan dan kesabaran revolusioner.
- Monumen yang digagas Megawati itu menggambarkan kontemplasi tentang keteguhan dan keberanian dalam menghadapi kekerasan politik 1996.
- Peresmian dihadiri keluarga Megawati, putri Mohammad Hatta, dan pematung Dolorosa Sinaga, menandai refleksi atas demokrasi Indonesia.

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri secara langsung menaburkan bunga di depan Monumen Kudatuli, Senin (29/1), sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi para korban Peristiwa 27 Juli 1996. Peresmian monumen yang berlokasi di halaman kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, itu berlangsung khidmat dan sarat makna politik.
Monumen Kudatuli, yang namanya diambil dari singkatan peristiwa berdarah tersebut, merupakan simbol perlawanan terhadap kekerasan negara yang merenggut nyawa dan melukai banyak kader PDIP. Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa monumen ini bukan sekadar tugu batu, melainkan representasi dari “kesabaran revolusioner” yang lahir dari keyakinan, keteguhan, dan keberanian. “Kita kalau yakin dalam kehidupan, harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa,” ujarnya.
Prosesi tabur bunga dilakukan setelah Megawati meresmikan monumen dengan menggunting pita. Ia didampingi oleh putranya, Prananda Prabowo, beserta istri dan kedua cucunya. Kehadiran Meutia Hatta dan Halida Hatta, putri Mohammad Hatta, menambah bobot historis acara tersebut, mengingat peran Bung Hatta dalam perjuangan demokrasi. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto juga tampak mendampingi.
Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan peristiwa kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia, ketika kantor DPP PDIP diserang dan diduduki oleh aparat keamanan yang didalangi rezim Orde Baru. Saat itu, Megawati dipaksa mundur dari kursi ketua umum partai. Monumen ini diharapkan menjadi pengingat abadi bagi generasi muda tentang harga yang harus dibayar untuk demokrasi. “Kontemplasi ini lahir dari perenungan panjang, karena saya selalu berdoa, kapan Republik Indonesia akan menjadi negara yang mandiri, kaya, dan rakyatnya sejahtera,” kata Megawati dalam sambutannya.
Usai tabur bunga, Megawati dan seluruh tamu berpose dengan salam perjuangan “Merdeka” sebagai penegasan semangat menjaga demokrasi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama di depan monumen. Ke depan, Monumen Kudatuli diharapkan menjadi ruang publik yang menginspirasi, bukan sekadar tugu peringatan, melainkan juga pengingat bahwa perjuangan demokrasi tak pernah usai. Pertanyaan yang menggantung: mampukah trauma masa lalu benar-benar disembuhkan, atau justru terus bergema dalam dinamika politik Indonesia yang masih rapuh?



