Jeda Serangan ke Iran: Trump Belum Tutup Opsi Militer, Diplomasi Mulai Diuji
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara rangkaian serangan 13 hari ke Iran, tetapi masih memiliki wewenang untuk memerintahkan aksi militer besar.
- Penundaan eskalasi dipicu kekhawatiran menipisnya stok rudal pertahanan udara AS yang sudah kritis.
- Oman dan Qatar gencar menjembatani dialog, sementara Pentagon tetap menyusun rencana kontingensi serangan lanjutan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum sepenuhnya menutup pintu untuk operasi militer terhadap Iran meskipun telah memerintahkan penghentian sementara kampanye pengeboman. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran internal bahwa eskalasi lanjutan akan menguras persediaan rudal pertahanan udara yang sudah menipis secara berbahaya.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip RIA Novosti, Trump menunda rencana peningkatan drastis operasi militer setelah mendapat masukan dari para pejabat Pentagon. Mereka menilai bahwa konsumsi rudal pertahanan udara dalam 13 hari serangan berturut-turut telah mendekati batas aman, sehingga jeda diperlukan untuk memulihkan stok. Keputusan ini menandai pertama kalinya sejak 28 Februari lalu Washington dan Teheran tidak saling serang secara langsung dalam kurun waktu lebih dari satu pekan.
Sementara itu, militer AS belum membatalkan rencana kontingensi untuk kembali melancarkan serangan besar. Axios melaporkan bahwa sejumlah skenario masih disiapkan, termasuk kemungkinan pemboman skala penuh terhadap fasilitas nuklir Iran. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Trump, yang pada Jumat lalu menginstruksikan penghentian serangan lebih lanjut.
Diplomasi mulai digadang sebagai alternatif. Pejabat pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa Oman dan Qatar tengah berupaya menghidupkan kembali proses negosiasi. Upaya ini muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz pada 12 Juli sebagai respons terhadap serangan AS terhadap kapal komersial di perairan tersebut. Trump kemudian menyatakan bahwa AS akan menjadi โpenjagaโ Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz memiliki dampak langsung. Selat ini merupakan jalur vital bagi sekitar 30% perdagangan minyak dunia, termasuk pasokan minyak mentah ke Indonesia. Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi domestik dan mengerek biaya logistik. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, biasanya mengambil posisi netral dan mendorong de-eskalasi melalui forum multilateral seperti OKI atau PBB. Namun, jika konflik berlanjut, Indonesia bisa terkena imbas berupa tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan.
Belum ada tanda-tanda bahwa Trump akan segera mengeluarkan perintah serangan baru. Para analis memperkirakan bahwa jeda ini bisa dimanfaatkan kedua pihak untuk menguji niat baik masing-masing. Namun, dengan persediaan rudal yang terbatas dan tekanan dari lobi minyak domestik AS, apakah Trump akan menahan diri atau justru mencari jalan keluar melalui diplomasi? Jawabannya akan menentukan arah konflik di kawasan Teluk dalam beberapa pekan ke depan.



