Kiper Pura-Pura Cedera? Kini Tim Harus Kehilangan Satu Pemain, Begini Aturan Barunya
Baca dalam 60 detik
- Sepak bola Inggris akan menerapkan uji coba aturan yang memaksa satu pemain luar meninggalkan lapangan selama satu menit jika kiper mendapat perawatan, sebagai upaya memberantas taktik time-out.
- Mekanisme ini dipicu oleh maraknya insiden kiper pura-pura cedera untuk memberi instruksi tim atau memecah momentum lawan, seperti yang pernah dilakukan Gianluigi Donnarumma.
- Jika uji coba berhasil, perubahan permanen aturan global bisa berlaku mulai musim 2027-28, dan di Indonesia, PSSI berpotensi mengadopsi langkah serupa untuk meningkatkan integritas permainan.

Praktik kiper yang pura-pura cedera demi memberi instruksi kepada rekan setim atau memecah konsentrasi lawan akan segera berakhir. Sepak bola Inggris akan memulai uji coba aturan baru yang mewajibkan satu pemain luar meninggalkan lapangan selama satu menit setiap kali fisioterapis masuk merawat kiper. Aturan ini disepakati oleh FA, Premier League, EFL, National League, dan Women's Super League, dan tinggal menunggu persetujuan International Football Association Board (Ifab).
Taktik time-out kiper telah menjadi pemandangan kontroversial dalam beberapa musim terakhir. Kiper kerap duduk di lapangan dan memanggil fisioterapis, sementara pemain lain berkumpul di pinggir lapangan menerima arahan pelatih. Begitu instruksi selesai, kiper segera bangkit dan melanjutkan permainan. Pada November lalu, pelatih Leeds United Daniel Farke menuduh kiper Manchester City Gianluigi Donnarumma sengaja berpura-pura cedera untuk "memanipulasi aturan" dan menghentikan momentum Leeds. Kasus-kasus seperti inilah yang mendorong otoritas sepak bola Inggris mencari solusi definitif.
Mekanisme aturan ini dirancang untuk bersifat preventif, bukan reaktif. Ketika wasit mengizinkan fisioterapis masuk merawat kiper, pelatih tim harus segera menunjuk satu pemain luar untuk meninggalkan lapangan selama satu menit. Nomor punggung pemain yang dipilih disampaikan kepada ofisial keempat. Jika dalam 10 detik tidak ada pemain yang ditunjuk, kapten tim yang harus keluar. Tujuan utama adalah memberikan efek jera, terutama pada menit-menit akhir pertandingan ketika tim yang unggul sering menggunakan taktik kiper untuk membuang waktu dan mengganggu ritme lawan. Dengan aturan ini, tim harus bermain dengan 10 pemain selama satu menit, yang tentu menjadi risiko besar.
Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mantan pemain dan pengamat Danny Murphy, yang sebelumnya mengusulkan skema serupa, menilai perubahan kecil ini akan berdampak besar. "Jika kiper jatuh cedera, alih-alih kiper yang keluar, satu pemain lapangan seharusnya keluar. Ini lebih adil bagi semua pihak," kata Murphy. Namun, ada kekhawatiran bahwa aturan ini justru mendorong pemain, baik kiper maupun pemain luar, untuk memaksakan diri bermain meski cedera, karena enggan meninggalkan tim dalam kondisi kalah jumlah. Ifab akan mengevaluasi hasil uji coba dalam rapat-rapat musim ini, dan jika dianggap berhasil, perubahan permanen dapat diterapkan secara global mulai musim 2027-28.
Bagi Indonesia, aturan ini bisa menjadi referensi berharga. Liga Indonesia kerap menghadapi masalah serupa, di mana kiper atau pemain lain sering berpura-pura cedera untuk memperlambat tempo atau memecah konsentrasi lawan. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru dapat mempertimbangkan mengadopsi aturan serupa untuk meningkatkan kualitas dan fair play kompetisi. Meskipun belum ada wacana resmi, pengalaman Inggris bisa menjadi contoh bahwa taktik semacam ini bisa dicegah dengan perubahan regulasi yang cerdas dan sederhana.
Ke depannya, apakah aturan ini akan efektif sepenuhnya? Uji coba akan menjadi ujian apakah pemain dan pelatih bisa beradaptasi, atau justru mencari celah baru. Yang jelas, perjuangan melawan berbagai bentuk pemborosan waktu dalam sepak bola tidak akan pernah selesai. Tapi satu langkah kecil seperti ini bisa menjadi awal dari perubahan budaya permainan yang lebih bersih dan sportif.



