Fury vs Joshua: Duel Heavyweight Inggris Kian Nyata, Namun Waktu dan Tempat Masih Misteri
Baca dalam 60 detik
- Tyson Fury dan Anthony Joshua sukses melewati laga pemanasan, mempertahankan kans pertarungan akbar kelas berat.
- Kontrak sudah diteken, namun perebutan hak tuan rumah antara Inggris, Arab Saudi, dan Amerika Serikat masih alot.
- Dari sisi komersial, duel ini diprediksi menghasilkan miliaran dolar, termasuk siaran langsung Netflix yang menjangkau 325 juta pelanggan global.

Pertarungan tinju kelas berat yang telah dinanti selama 16 tahun antara dua raksasa Inggris, Tyson Fury dan Anthony Joshua, akhirnya menemukan titik terang. Keduanya sukses memenangi laga pemanasan pekan lalu—Fury menghentikan Mariusz Wach di Thailand, sementara Joshua bangkit dari dua kali knockdown untuk mengalahkan Kristian Prenga di Arab Saudi. Namun di balik kemenangan itu, sederet hambatan logistik dan keuangan masih menggelayut.
Kontrak pertandingan sudah ditandatangani tiga bulan lalu, demikian klaim promoter Joshua, Eddie Hearn. Nilai hadiah masing-masing petinju diperkirakan menembus 100 juta dolar AS. Namun tempat dan tanggal pertarungan masih menjadi medan pertempuran baru. Hearn bersikeras duel ini harus digelar di Inggris—khususnya Wembley Stadium—sesuai keinginan Joshua. Namun promotor asal Arab Saudi, Turki Alalshikh, yang mendanai pertandingan, dikabarkan mengincar Madison Square Garden di New York pada November demi pasar televisi Amerika.
Persoalan waktu juga menjadi krusial. Jika digelar di Inggris, pertandingan harus dimulai dini hari agar sesuai dengan prime time Amerika Serikat. Preseden semacam ini sudah ada: pertarungan Ricky Hatton vs Kostya Tszyu pada 2005 dimulai pukul 02.00 BST. Wali Kota London Sadiq Khan dan dewan setempat menyatakan terbuka untuk memperpanjang jam malam Wembley, namun hingga kini belum ada komunikasi resmi dari penyelenggara.
Dari sudut pandang penggemar, duel ini datang terlambat. Baik Fury maupun Joshua sudah tidak lagi menjadi juara dunia tak terbantahkan. Fury baru saja menelan dua kekalahan beruntun dari Oleksandr Usyk, sementara Joshua kalah KO dari Daniel Dubois. Namun secara komersial, nama besar kedua petinju tetap menjadi magnet. Joshua berhasil memperkenalkan dirinya ke khalayak Amerika setelah mengalahkan Jake Paul, sementara Fury memanfaatkan popularitas dari WWE dan serial Netflix untuk membangun basis penggemar global.
Di Indonesia, pertarungan ini diprediksi menarik perhatian besar, terutama dengan kemudahan akses melalui platform streaming. Meski tinju profesional bukan olahraga arus utama di Tanah Air, nama Tyson Fury dan Anthony Joshua sudah cukup dikenal. Jika terealisasi, duel ini bisa menjadi tontonan olahraga malam yang dinantikan, setara dengan laga sepak bola Eropa.
“Saya bersikeras pertarungan ini di Inggris. Ini adalah pertarungan Inggris,” tegas Eddie Hearn, promoter Joshua, kepada BBC Sport. “Satu-satunya cara pertandingan tidak digelar di Inggris adalah jika Anthony Joshua dan saya setuju sebaliknya karena kontrak kami mengikat secara hukum.”
Hearn menambahkan bahwa jika Arab Saudi atau pihak lain bersikeras membawa pertandingan ke Amerika, maka kontrak Joshua harus dinegosiasi ulang. Sementara itu, Fury memilih tidak terbang ke Jeddah untuk konfrontasi langsung setelah laga Joshua, meskipun sempat muncul rumor kehadiran seorang pemeran pengganti yang mirip dengannya.
Pertanyaan terbesar yang tersisa bukan hanya soal lokasi, melainkan siapa yang lebih layak memenangkan duel ini. Seperti diungkapkan banyak analis, duel ini kini lebih tentang petinju mana yang paling sedikit mengalami penurunan performa. Joshua masih memiliki kekuatan knockout mematikan, sementara keunggulan Fury terletak pada gerak kaki dan kecerdasan di atas ring. Mampukah keduanya memberikan pertarungan yang layak dikenang? Ataukah semua hanya akan menjadi tontonan nostalgia yang dibayar mahal?



