Lomba Dongeng Beraksara Nusantara: Kemenbud dan PANDI Genjot Literasi Budaya di Ruang Digital
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kebudayaan dan PANDI meluncurkan kompetisi menulis dongeng anak menggunakan enam aksara daerah, mulai Agustus 2026.
- Inisiatif ini bertujuan menghidupkan aksara Nusantara sebagai warisan budaya yang relevan bagi generasi digital.
- Lomba gratis dan terbuka untuk umum, dengan pemenang diumumkan awal 2027.

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) bersama Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) membuka kompetisi menulis dongeng anak beraksara Nusantara, sebuah langkah konkret untuk merawat identitas bangsa di tengah derasnya arus digital. Pendaftaran peserta akan dimulai pada 8 Agustus 2026, bertepatan dengan momentum Hari Aksara Internasional yang jatuh sebulan kemudian.
Ketua PANDI Isnawan Aslam menegaskan bahwa aksara daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian integral dari jati diri bangsa yang harus terus dirawat, termasuk dalam ruang digital. โKami ingin menghadirkan cara yang lebih dekat, kreatif, dan menyenangkan bagi generasi muda untuk mengenal kembali aksara daerah,โ ujarnya dalam keterangan resmi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik inisiatif ini, berharap aksara Nusantara dapat menjadi warisan budaya hidup (living heritage) yang tak lekang oleh zaman.
Lomba ini menyediakan enam kategori aksara yang dapat dipilih peserta sesuai dengan bahasa dan budaya yang ingin dihidupkan: Jawa, Sunda, Bali, Batak, Bugis, dan Rejang. Masa penulisan dan pengumpulan karya berlangsung dari 8 September 2026 hingga 31 Januari 2027. Pengumuman pemenang direncanakan pada Februari 2027, disusul penyerahan hadiah pada bulan berikutnya. Informasi lengkap dapat diakses melalui situs resmi lomba.
Melalui medium dongeng anak, Kemenbud dan PANDI berharap aksara Nusantara tidak hanya dikenang, tetapi benar-benar digunakan kembali oleh generasi penerus. Lomba ini juga menjadi bagian dari komitmen PANDI untuk mendukung pemanfaatan aksara lokal di ruang digital, sejalan dengan upaya digitalisasi warisan budaya yang terus digalakkan.
Bagi masyarakat Indonesia, lomba ini membuka peluang untuk berkontribusi langsung dalam pelestarian budaya sekaligus mengasah kreativitas literasi. Di era ketika gawai dan media sosial mendominasi, inisiatif seperti ini menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Dengan menulis dongeng menggunakan aksara asli Nusantara, peserta tidak hanya menghidupkan kembali huruf-huruf kuno, tetapi juga menanamkan nilai-nilai lokal pada anak-anak.
Ke depan, keberhasilan lomba ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana minat publik terhadap aksara daerah masih membara. Akankah generasi muda merespons dengan antusias, atau justru menjauh karena terbiasa dengan aksara Latin? Semua bergantung pada partisipasi dan kreativitas yang lahir dari tanah air sendiri.



