Fauzan: Jurnal Saja Tak Cukup, Kampus Wajib Lahirkan Solusi Nyata bagi Masyarakat
Baca dalam 60 detik
- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mendorong perguruan tinggi untuk tidak berpuas diri dengan publikasi jurnal, melainkan menghasilkan dampak langsung melalui program mobilitas mahasiswa.
- Sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa akan diterjunkan ke masyarakat selama empat bulan dalam Program Mahasiswa Berdampak, berkolaborasi dengan 1.152 mitra dalam dan luar negeri.
- Kampus di Indonesia didorong mengubah orientasi dari riset teoretis ke solusi aplikatif, sejalan dengan target pembangunan nasional dan kebutuhan industri.

Perguruan tinggi di Indonesia tak lagi bisa berlindung di balik tumpukan jurnal ilmiah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan bahwa setiap output akademik mesti berujung pada solusi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan sekadar memenuhi angka publikasi.
Pernyataan itu disampaikan Fauzan dalam acara kick-off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (17/3). Program ini menjadi ujung tombak perubahan orientasi pendidikan tinggi yang selama ini kerap dikritik karena risetnya hanya berhenti di perpustakaan atau jurnal berindeks, tanpa menyentuh persoalan riil seperti kemiskinan, stunting, atau digitalisasi desa.
Dalam skema tersebut, sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa akan diterjunkan ke masyarakat selama empat bulan. Mereka tidak hanya belajar dari realitas sosial, tetapi juga ditantang untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi warga. Program ini melibatkan 1.152 mitra dari dalam dan luar negeri, mencakup unsur pemerintah, dunia usaha, industri, masyarakat, dan lembaga lainnya.
โKarya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat,โ ujar Fauzan dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki kemampuan berkolaborasi, beradaptasi, memecahkan masalah, dan membangun empati.
Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, yang akrab disapa Cak Hasan, menyebut program ini sebagai laboratorium kehidupan. Ia menekankan bahwa di era global, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam kedisiplinan, tanggung jawab, pemecahan masalah, empati, dan kerja sama tim. โProgram ini sejalan dengan misi pembangunan nasional,โ kata Cak Hasan.
Salah satu peserta, Aldito Christian Putra, mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Unesa, mengikuti skema magang di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia sebagai programmer. Ia bertugas mengembangkan sistem berbasis web, memperbaiki kendala teknis, serta berkolaborasi dalam pengujian sistem. โSaya jadi bisa melatih soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan profesionalisme,โ ucapnya.
Langkah ini menjadi sinyal keras bahwa orientasi pendidikan tinggi di Indonesia harus berubah. Jika berhasil, model Unesa bisa direplikasi ke kampus lain, mengubah cara pandang dunia usaha terhadap lulusan S1 yang selama ini dianggap kurang siap kerja. Namun, tantangan terbesar ada pada koordinasi mitra dan kesiapan dosen pendamping di lapangan. Tanpa sistem monitoring yang ketat, program rawan berubah menjadi seremonial tahunan tanpa dampak terukur.
Ke depan, publik menanti apakah program ini benar-benar mampu mengubah budaya akademik kampus, atau hanya menjadi wacana tanpa keberlanjutan. Jawabannya bergantung pada sejauh mana kolaborasi dengan mitra dijalankan dan bagaimana hasilnya diukur secara konkret. Satu hal pasti: tumpukan jurnal tidak lagi cukup sebagai bukti kontribusi perguruan tinggi.



