Laut Merah Membara: Houthi Blokade Ekspor Saudi, Harga Minyak Melonjak ke Tertinggi Dua Bulan
Baca dalam 60 detik
- Lalu lintas kapal komoditas di Selat Bab el-Mandeb anjlok ke level terendah dalam beberapa bulan setelah serangan Houthi ke fasilitas Aramco.
- Gangguan ini memperluas konflik AS-Iran yang telah membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
- Kenaikan biaya pengapalan dan harga minyak fisik mengancam stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor.

Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap instalasi minyak Arab Saudi di Jizan dan Yanbu pada Sabtu (25/7) lalu langsung memukul arus pelayaran di Laut Merah. Data dari Kpler menunjukkan hanya sebelas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Minggu (26/7)—angka terendah dalam beberapa bulan terakhir—menandai eskalasi baru konflik yang telah menggerus pasokan minyak global.
Sejak pekan lalu, kelompok Houthi memperluas target operasi mereka dengan berusaha memblokade ekspor Saudi. Langkah ini memperdalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya telah mengganggu jalur vital minyak dunia, Selat Hormuz. Dampaknya langsung terasa: harga minyak mentah fisik di Timur Tengah, Eropa, dan Afrika melesat ke level tertinggi dalam dua bulan pada pekan lalu.
Dari sebelas kapal yang melintas pada Minggu, tujuh di antaranya merupakan tanker minyak. Tiga kapal masuk ke Laut Merah, termasuk dua Very Large Crude Carriers (VLCC) yang hendak memuat minyak Saudi di Yanbu, serta satu kapal berbendera Rusia. Sementara itu, empat kapal yang keluar dari Laut Merah membawa muatan strategis: VLCC New Explorer berbendera Hong Kong mengangkut 2 juta barel minyak Saudi dan Emirat menuju Ningbo, Tiongkok; satu tanker membawa 1 juta barel minyak Rusia untuk Tiongkok; dan satu kapal lainnya membawa sekitar 750.000 barel minyak Saudi ke Pakistan.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya telah menyerang lokasi milik Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu pada Sabtu. Serangan ini terjadi di tengah upaya internasional meredakan ketegangan, namun bukti di lapangan menunjukkan eskalasi justru berlanjut. Selat Hormuz juga mencatatkan lalu lintas tipis: hanya tujuh kapal pada Minggu, termasuk tiga tanker produk minyak bermuatan Iran yang meninggalkan kawasan, dan tiga kapal pada Sabtu dengan transponder dimatikan.
Bagi Indonesia, negara pengimpor minyak bersih, lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok ini menjadi sinyal kewaspadaan. Setiap kenaikan harga minyak dunia berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi volatilitas harga dengan mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat cadangan strategis, sambil memantau pergerakan kapal tanker yang masih mengalir—seperti VLCC New Pearl dan New Explorer—yang menunjukkan bahwa jalur alternatif tetap berjalan meski di bawah tekanan.
Ke depan, efektivitas blokade Houthi akan menjadi kunci. Jika lalu lintas komersial terus ditekan dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan pada negara importir seperti Indonesia akan semakin berat. Pertanyaannya, seberapa lama ketahanan rantai pasok global mampu bertahan di tengah konflik yang kian meluas?



