LCC Empat Pilar Digelar di Kaltara: Zainal Paliwang Soroti Urgensi Karakter Bangsa di Era Bonus Demografi
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Kalimantan Utara membuka Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI sebagai upaya membangun kesadaran kebangsaan sejak pendidikan dasar.
- Di tengah bonus demografi 2045, Zainal Paliwang menekankan pendidikan karakter setara pentingnya dengan prestasi akademik bagi generasi muda.
- Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—hendaknya dipahami sebagai pedoman hidup, bukan sekadar hafalan lomba.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, menegaskan bahwa Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI bukan sekadar ajang adu pengetahuan, melainkan wahana strategis menanamkan nasionalisme dan karakter kebangsaan pada pelajar. Dalam pembukaan LCC tingkat provinsi, Sabtu (25/7), ia mengingatkan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai dasar negara—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya untuk memenangkan perlombaan.
Menurut Zainal, kegiatan ini mengasah kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan sportivitas, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap NKRI. Di era yang terus berubah, ia menilai pendidikan karakter memiliki urgensi yang sama dengan prestasi akademik. “Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, cinta tanah air, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap bangsa,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (27/7).
Pesan ini menjadi relevan mengingat Indonesia akan menghadapi puncak bonus demografi pada 2045. Zainal menyebut bahwa generasi muda saat ini adalah penentu keberhasilan cita-cita Indonesia Emas. “Ini peluang emas apabila dipersiapkan dengan pendidikan berkualitas, pembinaan karakter, dan penguatan ideologi kebangsaan. Sebaliknya, bila tidak dikelola, bonus demografi justru menjadi beban pembangunan,” tegasnya.
Ia berharap LCC ini mampu melahirkan generasi muda Kalimantan Utara yang cerdas, berkarakter, dan berwawasan kebangsaan. “Semoga dari ajang ini lahir pemimpin masa depan yang siap membawa Indonesia lebih maju,” kata Zainal di hadapan peserta lomba. Pernyataan ini menggarisbawahi peran daerah dalam menyiapkan kader bangsa yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga memiliki fondasi ideologi yang kokoh.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah sejauh mana momentum LCC semacam ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional agar tidak hanya bersifat seremonial. Jika setiap provinsi mampu mengadopsi model serupa secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin Indonesia memiliki generasi emas yang benar-benar siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.


