Kejutan di Bank Indonesia: Perry Warjiyo Mundur, Pasar Khawatir Independensi BI Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri secara mendadak, dan Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran dirinya.
- Keputusan ini memicu kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral di tengah tekanan fiskal dan pelemahan rupiah.
- Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur, sementara spekulasi soal calon pengganti permanen mulai mengemuka.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara mengejutkan mengundurkan diri dari jabatannya, sebuah langkah yang langsung disetujui Presiden Prabowo Subianto dan memicu kekhawatiran di kalangan investor akan arah kebijakan moneter serta independensi bank sentral. Pengumuman ini disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Senin pagi, sesaat sebelum perdagangan di Bursa Efek Indonesia dimulai.
Destry Damayanti, deputi gubernur senior Bank Indonesia, langsung ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur. Dalam pernyataannya, Destry mengatakan Perry mengundurkan diri karena alasan pribadi. Namun, Prasetyo Hadi menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan di balik keputusan tersebut, dan Perry belum bisa dimintai konfirmasi.
Pengunduran diri ini terjadi di saat Bank Indonesia tengah berada di bawah tekanan berat untuk mendukung agenda pertumbuhan ambisius Prabowo, sementara nilai tukar rupiah jatuh ke titik terendah dalam sejarah pada Juni lalu. Untuk menahan tekanan terhadap rupiah, BI telah menaikkan suku bunga acuan total 100 basis poin sejak Mei, namun pekan lalu justru mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga dan menawarkan insentif baru untuk menarik modal asing.
Analis menilai langkah ini berisiko mengguncang kepercayaan pasar. "Pengunduran diri Perry Warjiyo kemungkinan akan ditanggapi negatif oleh pasar, karena ia dianggap sebagai sosok yang stabil dan memiliki rekam jejak yang baik," ujar Angus Mackintosh, spesialis ASEAN di Aletheia Capital Singapura. Mackintosh juga menyoroti potensi konflik kepentingan jika pengganti Perry berasal dari lingkaran dekat Presiden Prabowo, seperti keponakannya Thomas Djiwandono yang kini menjabat deputi gubernur BI. "Pasar akan curiga jika itu terjadi, karena ini adalah pos teknokratik yang krusial dan BI harus tetap independen," tambahnya.
Kekhawatiran terhadap independensi BI semakin menguat setelah parlemen bulan lalu mengesahkan undang-undang yang memperkuat peran bank sentral dalam mendukung pertumbuhan, sekaligus memberikan wewenang kepada anggota dewan untuk memberikan rekomendasi yang mengikat kepada regulator keuangan independen, termasuk BI. Langkah ini dinilai dapat melemahkan otonomi BI dalam pengambilan keputusan moneter. Sebelumnya, pada 2023, pencopotan mendadak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga sempat menggegerkan pasar dan menimbulkan kekhawatiran akan kredibilitas fiskal Indonesia.
Destry Damayanti dalam keterangan persnya menegaskan bahwa Bank Indonesia "akan selalu memastikan kesinambungan tugas dan kewenangannya" untuk menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan demi menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan. Namun, kenyataan di lapangan mungkin tidak sesederhana itu. Brokerage Mirae Asset Sekuritas dalam catatannya menyebut perkembangan ini akan menjadi fokus utama pasar keuangan, karena investor menunggu keputusan pemerintah soal pengganti Perry dan menilai implikasinya terhadap kesinambungan kebijakan moneter, kredibilitas institusi, serta arah kebijakan secara keseluruhan.
Langkah mendadak Perry Warjiyo ini meninggalkan tanda tanya besar: akankah Presiden Prabowo mempertahankan tradisi independensi BI atau justru mengisinya dengan figur yang lebih akomodatif terhadap agenda pertumbuhan? Jawabannya akan sangat menentukan nasib rupiah dan kepercayaan investor dalam jangka menengah.



