Kazuyoshi Miura, 59 Tahun, Cetak Gol Pertama dalam 4 Musim di Piala Kaisar
Baca dalam 60 detik
- Striker legendaris Jepang Kazuyoshi Miura kembali mencetak gol di usia 59 tahun saat memperkuat Fukushima United di Piala Kaisar, gol pertamanya sejak November 2022.
- Miura, yang dijuluki 'King Kazu', telah bermain profesional sejak 1986 dan masih aktif di kasta ketiga liga Jepang dengan kontrak pinjaman hingga 2027.
- Dedikasi Miura menjadi inspirasi global, termasuk di Indonesia, di mana fenomena pesepak bola senior bisa mendorong diskusi tentang perpanjangan karier atlet di dalam negeri.

Kazuyoshi Miura, pesepak bola profesional tertua di dunia, kembali menorehkan tinta emas di usianya yang ke-59. Pada Sabtu lalu, ia mencetak gol pertamanya dalam hampir empat tahun saat membela Fukushima United di ajang Piala Kaisar, kompetisi tertua di Jepang. Gol tersebut tercipta pada menit ke-52 dan menjadi bagian dari kemenangan telak 7-0 atas Iwaki Furukawa.
Bagi Miura, gol ini bukan sekadar angka. Ini adalah pembuktian bahwa usia hanyalah angka bagi pria yang memulai karier profesionalnya di Brasil pada 1986. Sepanjang 41 musim, ia telah bermain di lima negara dan mencetak 55 gol dalam 89 penampilan untuk tim nasional Jepang. Meski terakhir kali memperkuat Samurai Biru pada 2000, namanya tetap abadi sebagai ikon sepak bola Asia.
Pertandingan di Piala Kaisar sering menjadi ajang kejutan, namun kembalinya Miura ke papan skor menjadi sorotan utama. Gol ini adalah yang pertama sejak ia masih membela Suzuka PG (kini Atletico Suzuka) pada November 2022. Sejak itu, Miura menjalani masa pinjaman di Fukushima United dari Yokohama FCโklub yang telah ia bela sejak 2005 namun tak pernah ia mainkan lagi sejak 2020. Kontrak pinjamannya kini diperpanjang hingga Juni 2027, memastikan ia akan memasuki musim ke-42 sebagai pemain aktif.
Dijuluki 'King Kazu', Miura adalah simbol kegigihan dan cinta pada sepak bola. Ia menjadi duta Liga J ketika kompetisi tersebut dimulai pada 1993, dan hingga kini masih menjadi favorit penggemar. Kariernya juga meliputi petualangan di Italia (Genoa), Kroasia (Dinamo Zagreb), dan Australia (Sydney FC).
Fenomena Miura relevan pula bagi Indonesia. Di tengah sorotan terhadap regenerasi pemain, kehadiran figur seperti Miura mengingatkan bahwa pengalaman dan disiplin dapat memperpanjang usia karier atlet. Beberapa klub Indonesia juga mulai memberi ruang bagi pemain senior, namun belum ada yang setangguh Miura dalam mempertahankan performa di usia senja. Kisahnya bisa menjadi bahan refleksi bagi manajemen klub dan pembinaan atlet di Tanah Air.
Miura sendiri pernah menyatakan keinginannya bermain hingga usia 60 tahun. Dengan gol ini, ia membuktikan bahwa target tersebut bukanlah sekadar mimpi. Pertanyaannya kini: akankah ia terus mencetak gol di liga resmi musim depan, atau justru pensiun dengan catatan manis? Satu hal pasti, 'King Kazu' belum selesai menulis legenda.



