Liverpool Diminta Beralih dari Barcola ke Rayan: Selisih Harga Rp2,9 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Liverpool tengah memburu penyerang baru usai kepergian Mohamed Salah, dengan Bradley Barcola dari PSG sebagai target utama yang dibanderol £145 juta.
- Analis menilai harga Barcola terlalu mahal dan membandingkannya dengan Rayan, pemain Bournemouth asal Brasil yang hanya memiliki klausul rilis £85 juta pada 2027.
- Rayan, yang pernah bekerja sama dengan pelatih Andoni Iraola di Bournemouth, dinilai lebih efisien secara statistik dan lebih murah, menjadikannya opsi ideal bagi Liverpool.

Liverpool harus mempertimbangkan ulang strategi perburuan penyerang mereka. Alih-alih menggelontorkan dana fantastis untuk Bradley Barcola, manajemen The Reds disarankan untuk mengalihkan fokus kepada Rayan, pemain sayap Bournemouth yang pernah menjadi anak asuh Andoni Iraola. Perbedaan harga yang mencapai £60 juta—setara Rp1,2 triliun—menjadi alasan utama di balik rekomendasi ini.
Kepergian Mohamed Salah pada akhir musim lalu meninggalkan lubang besar di lini depan Liverpool. Cedera Hugo Ekitike dan inkonsistensi Cody Gakpo semakin mempertegas kebutuhan akan amunisi baru. Dalam situasi ini, nama Bradley Barcola muncul sebagai prioritas utama. Pemain PSG berusia 23 tahun itu dikabarkan ingin hengkang, namun banderol £145 juta yang dipasang Les Parisiens membuat banyak pihak ragu.
Angka tersebut akan memecahkan rekor transfer Liverpool, namun performa Barcola musim lalu dianggap belum sepadan. Dalam 55 penampilan di semua kompetisi, ia mencetak 13 gol dan delapan assist—catatan yang justru dilampaui gelandang Liverpool Dominik Szoboszlai dengan jumlah laga lebih sedikit. Perbandingan ini memunculkan pertanyaan: apakah pantas membayar mahal untuk pemain yang belum terbukti di Premier League?
Di sisi lain, Rayan yang baru berusia 19 tahun justru menunjukkan efisiensi lebih tinggi. Dalam 15 pertandingan liga musim lalu, ia mencetak lima gol dengan rata-rata 0,4 gol per 90 menit—angka yang menempatkannya di atas 91% penyerang Eropa. Ia juga unggul dalam menciptakan peluang: 0,9 big chances per 90 menit, dua kali lipat lebih baik dari Barcola. Statistik ini diraihnya saat bermain untuk Bournemouth yang notabene tim papan tengah, bukan raksasa Ligue 1.
Keuntungan lain bagi Liverpool adalah faktor Iraola. Pelatih asal Spanyol itu pernah menangani Rayan di Bournemouth dan mengenal betul karakter serta kemampuannya. Sistem pressing tinggi yang diterapkan Iraola diyakini cocok dengan gaya bermain pemain Brasil tersebut. “Rayan sudah memahami tuntutan taktis Iraola, sehingga adaptasinya di Anfield bisa lebih cepat,” ujar seorang analis yang dikutip talkSPORT.
Namun, tantangan tetap ada. Rayan baru bergabung dengan Bournemouth pada Januari lalu, dan klub asal pantai selatan Inggris itu tentu enggan melepasnya dengan mudah. Meski klausul rilis £85 juta baru aktif pada 2027, Liverpool bisa mencoba negosiasi lebih awal. Jika berhasil, mereka tidak hanya menghemat dana besar, tetapi juga mendapatkan pemain yang berpotensi menjadi bintang dalam satu dekade ke depan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perbandingan ini mengingatkan pada fenomena transfer pemain muda Brasil yang kerap menjadi incaran klub Eropa. Nilai jual tinggi seringkali tidak sebanding dengan performa di lapangan, seperti yang terjadi pada beberapa kasus sebelumnya. Keputusan Liverpool akan menjadi contoh bagaimana klub besar harus cermat dalam membelanjakan uang di tengah inflasi harga pemain.
Ke depannya, Liverpool harus memutuskan: bertahan pada Barcola dengan segala risikonya, atau beralih ke Rayan yang lebih murah dan sudah terbukti di bawah arahan Iraola. Jawabannya mungkin akan menentukan arah kebijakan transfer klub di era pasca-Salah.



