Kedelai Brasil Kian Mendominasi Pasar China, AS Tergeser — Implikasi bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Impor kedelai China dari Brasil pada Juni 2026 melonjak 13,7% menjadi 12,08 juta ton, sementara volume dari AS ambles 20,6% ke angka 1,27 juta ton, mempertegas pergeseran struktur pasokan global.
- Sepanjang semester I 2026, impor kedelai AS ke China anjlok 42,4%—jauh dari komitmen tahunan 25 juta ton—sementara Brasil menguasai 69,5% pasar ekspor kedelainya ke China dengan pendapatan naik 7% menjadi US$20,2 miliar.
- Kebijakan tarif AS 25% ke produk Brasil dan lonjakan ekspor energi Brasil ke China (minyak mentah +62%) memperkuat dominasi Brasil, berpotensi memicu perubahan harga kedelai global yang berdampak langsung pada industri pangan Indonesia.

Brasil semakin kokoh sebagai pemasok kedelai utama China, sementara pengiriman dari Amerika Serikat terus merosot meskipun ada kesepakatan pembelian tahunan antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping. Badan Bea Cukai China melaporkan bahwa pada Juni 2026, Negeri Panda mengimpor 12,08 juta ton kedelai Brasil—naik 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu—sedangkan volume dari AS hanya 1,27 juta ton, turun 20,6 persen.
Data tersebut menegaskan tren yang berlangsung sepanjang semester pertama. Impor kedelai AS ke China terkoreksi 42,4 persen secara tahunan menjadi 9,31 juta ton pada Januari–Juni 2026, jauh dari komitmen Beijing untuk membeli setidaknya 25 juta ton per tahun hingga 2028. Sebaliknya, pasokan dari Brasil justru tumbuh 9,1 persen menjadi 34,75 juta ton pada periode yang sama, menjadikan Brasil pemasok dominan dengan pangsa 69,5 persen di pasar China.
Kenaikan volume impor Brasil tidak lepas dari faktor harga. Menurut laporan China-Brazil Business Council, pendapatan ekspor kedelai Brasil ke China naik 7 persen menjadi US$20,2 miliar pada semester I, didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata 7,3 persen meski volume yang dikapalkan sedikit menurun 0,2 persen.
Pergeseran ini tidak hanya soal kedelai. Brasil juga mencatat lonjakan ekspor minyak mentah ke China sebesar 62 persen menjadi US$15,1 miliar pada semester I, imbas dari ketegangan di Timur Tengah yang membuat China mengurangi ketergantungan pada pemasok Teluk. Volume bijih besi juga mencapai rekor 135 juta ton, bernilai US$9,2 miliar. Sementara itu, daging sapi Brasil ke China melesat 50 persen menjadi US$4,8 miliar, didorong oleh pengisian kuota 1,1 juta ton sebelum dikenakan bea tambahan 55 persen.
Di tengah ekspansi perdagangan Brasil-China, hubungan Brasil-AS justru memburuk. Pada hari yang sama saat laporan council dirilis, Perwakilan Dagang AS mengumumkan tarif 25 persen terhadap berbagai produk Brasil sebagai hasil penyelidikan Section 301 yang mencakup deforestasi ilegal, akses pasar etanol, dan sengketa sistem pembayaran Pix. Kamar Dagang Amerika di Brasil (Amcham Brasil) memperkirakan tarif ini akan memengaruhi ekspor Brasil ke AS senilai lebih dari US$11 miliar, terutama di sektor manufaktur.
Menteri Pembangunan, Industri, dan Perdagangan Brasil, Marcio Elias Rosa, mengungkapkan bahwa dalam negosiasi sebelum pengumuman tarif, AS meminta Brasil untuk membatasi akses mineral kritis bagi entitas yang tidak beroperasi dengan prinsip pasar—sindiran terhadap China. Namun, Rosa menegaskan bahwa mineral langka dan mineral kritis adalah milik rakyat Brasil dan menolak permintaan tersebut. AS juga meminta Brasil untuk menghapus tarif pada berbagai produk industri dan tidak mengatur platform digital.
Bagi Indonesia, pergeseran peta perdagangan kedelai global ini patut dicermati. Sebagai importir kedelai terbesar di Asia Tenggara—terutama untuk bahan baku tempe, tahu, dan pakan ternak—Indonesia selama ini bergantung pada pasokan dari AS dan Brasil. Dengan Brasil yang semakin menguasai pasar China, produsen AS mungkin akan lebih agresif mencari pasar alternatif, termasuk Indonesia. Hal ini berpotensi menekan harga impor kedelai dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan risiko konsentrasi pasokan jika ketergantungan pada satu negara terlalu besar. Di sisi lain, jika Brasil terus memprioritaskan China, Indonesia harus memastikan diversifikasi sumber impor untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional.
Pertanyaan yang tersisa adalah: akankah kesepakatan Trump-Xi yang masih berlaku mampu mengembalikan pangsa AS di China, ataukah dominasi Brasil akan semakin sulit ditandingi? Jawabannya tidak hanya akan menentukan arah harga kedelai global, tetapi juga strategi impor negara-negara seperti Indonesia di masa depan.



