AS dan Saudi Gempur Milisi Pro-Iran di Irak, Harga Minyak Langsung Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Pasukan AS dan Arab Saudi melancarkan serangan udara bersama ke sasaran logistik dan senjata milik kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak timur, sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi.
- Operasi militer ini mengakhiri jeda singkat permusuhan dan memicu kenaikan harga minyak mentah global lebih dari 4 persen, mengingatkan kembali pada kerentanan pasokan melalui Selat Hormuz.
- Serangan terjadi saat Presiden Trump dan PM Netanyahu bertemu di Washington, dengan isu utama membahas pencegahan Iran memiliki senjata nuklir dan situasi di Gaza yang masih memprihatinkan.

Amerika Serikat dan Arab Saudi menggelar operasi udara bersama pada Rabu (29/7) untuk menghancurkan instalasi militer milik kelompok militan pro-Iran di Irak timur. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap serangan berulang yang menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi, sekaligus mengakhiri masa jeda singkat dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Militer AS menyebut sasaran serangan adalah gudang logistik dan persenjataan yang digunakan oleh "teroris yang beraliansi dengan Iran". Kementerian Pertahanan Arab Saudi menambahkan bahwa kelompok-kelompok tersebut telah terbukti terlibat dalam aksi sabotase terhadap instalasi minyak Kerajaan. Operasi gabungan ini menjadi yang pertama sejak ketegangan antara Washington dan Teheran mereda sementara beberapa hari lalu.
Jeda permusuhan yang berlangsung beberapa hari itu runtuh pada Selasa malam, setelah militer AS melaporkan berhasil mencegat rudal yang diluncurkan Iran ke pangkalan-pangkalan Amerika di Teluk. Washington sebelumnya menyatakan bahwa penghentian pertempuran bertujuan memberi ruang bagi perundingan baru, termasuk soal status Selat Hormuzโjalur air strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengumumkan pada Rabu bahwa mereka telah menyerang dan menghentikan tiga kapal tanker di Selat Hormuz. IRGC menegaskan tetap memegang "kendali penuh" atas perairan tersebut, sebuah klaim yang langsung menggetarkan pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4 persen dalam hitungan jam, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Serangan udara ini berlangsung di tengah kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington. Ia bertemu Presiden Donald Trump di Gedung Putih untuk pertama kalinya secara langsung sejak perang Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu. Netanyahu menyebut pertemuan tersebut sebagai "salah satu percakapan terbaik yang pernah saya lakukan dengan presiden AS", dan menekankan pembahasan mengenai tujuan bersama: memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Trump hanya berkomentar singkat bahwa pertemuan itu "sangat baik".
Israel sendiri tidak terlibat dalam putaran terakhir permusuhan antara AS dan Iran, yang kembali memanas setelah gencatan senjata April lalu runtuh. Selain isu Iran, Trump dan Netanyahu dijadwalkan membahas implementasi kerangka kesepakatan yang disponsori AS antara Israel dan Lebanon, yang penerapannya di lapangan masih menghadapi kendala. Topik Gaza juga masuk dalam agenda, mengingat upaya diplomatik untuk memulai rekonstruksi wilayah Palestina yang hancur akibat perang masih menemui jalan buntu. Hingga berita ini diturunkan, belum jelas apakah kedua pemimpin benar-benar membahas isu-isu tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga crude akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika Selat Hormuz, karena setiap gangguan di jalur tersebut dapat mengganggu pasokan minyak mentah ke kilang-kilang domestik. Selain itu, ketegangan yang berkepanjangan berisiko memperlambat pemulihan ekonomi global, yang pada akhirnya memengaruhi ekspor dan investasi ke Indonesia.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah serangan balasan ini akan memicu siklus pembalasan baru yang lebih luas, atau justru membuka jalan bagi negosiasi yang lebih serius. Dengan Iran yang terus menunjukkan kekuatannya di Selat Hormuz, dan AS yang enggan mundur, stabilitas kawasan masih jauh dari kata pasti. Satu hal yang jelas: pasar energi dan para pembuat kebijakan di Asia, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi volatilitas yang berkepanjangan.



