Pogacar Samai Rekor Lima Gelar Tour de France, Dominasi Tak Terbendung
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar berhasil mengamankan gelar juara Tour de France kelimanya, menyamai rekor legendaris Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.
- Keunggulan Pogacar makin tak terbantahkan setelah rival utamanya, Jonas Vingegaard, mundur akibat cedera pada etape 15, meninggalkan panggung balap sepenuhnya untuknya.
- Etape final dipersingkat karena kebakaran hutan di dekat Bordeaux, sementara untuk pertama kalinya tak ada pembalap dari Prancis, Italia, atau Spanyol yang memenangi satu etape pun.

Tadej Pogacar mencatatkan namanya dalam buku sejarah Tour de France setelah memastikan gelar juara untuk kelima kalinya, sekaligus menyamai rekor para legenda balap sepeda. Pebalap Slovenia berusia 27 tahun itu menyelesaian etape terakhir dengan aman di Paris, Minggu (26/7), meskipun etape tersebut dimenangkan oleh Mathieu van der Poel. Kemenangan ini mengukuhkan dominasi Pogacar yang nyaris tanpa cela sepanjang tiga pekan balapan.
Pogacar, yang akrab disapa "Pogi", hanya perlu menghindari kecelakaan fatal pada etape 21 yang dipersingkat menjadi 89 kilometer akibat pengalihan personel keamanan untuk memadamkan kebakaran hutan di dekat Bordeaux. Dengan finis di peloton utama, ia resmi bergabung dengan klub elit Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain sebagai satu-satunya pembalap yang meraih lima mahkota Tour de France.
Sepanjang balapan, Pogacar menunjukkan superioritasnya dengan memenangi lima etape. Jalannya menuju jersey kuning ketiga berturut-turut menjadi lebih mulus setelah Jonas Vingegaard, juara dua kali dan rival terberatnya, mundur usai mengalami kecelakaan pada etape 15. Tanpa hambatan berarti, Pogacar mengendalikan perlombaan dengan strategi agresif yang membuat para pesaing kesulitan memberikan perlawanan.
Etape terakhir yang dimulai dari Rambouillet sempat menyajikan drama ketika Pogacar dan Van der Poel memisahkan diri pada tanjakan terakhir Montmartre dengan jarak sekitar 10 kilometer tersisa. Keunggulan tipis mereka langsung diburu oleh peleton utama. Namun, di kilometer akhir, Pogacar kehilangan tenaga dan Van der Poel terus melanjutkan serangan hingga finis dalam foto finish mengungguli rekan setimnya Jasper Philipsen. Mads Pedersen melengkapi podium etape.
Di klasemen akhir, Remco Evenepoel dari Belgia finis sebagai runner-up, sementara Isaac del Toro dari Meksiko menempati posisi ketiga. Kehadiran Del Toro di podium menunjukkan mulai menjamurnya talenta muda dari luar Eropa di ajang balap sepeda bergengsi.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, pencapaian Pogacar menjadi tontonan yang menginspirasi. Meski belum ada pembalap Indonesia yang tampil di Tour de France, popularitas olahraga ini terus meningkat, terlihat dari meluasnya siaran langsung dan antusiasme komunitas sepeda tanah air. Walau tak ada keterlibatan langsung, prestasi luar biasa Pogacar dapat menjadi pemicu semangat bagi atlet muda Indonesia untuk bermimpi dan berlatih lebih keras, terutama dengan semakin banyaknya ajang balap sepeda internasional yang bisa diikuti.
Absennya kemenangan etape dari tiga negara pendiri Grand TourโPrancis, Italia, Spanyolโmenjadi catatan tersendiri. Ini pertama kalinya dalam sejarah Tour de France tak satu pun pembalap dari negara-negara tersebut mampu menang etape. Kejadian ini menandai pergeseran peta kekuatan di dunia balap sepeda, di mana talenta dari Slovenia, Belgia, Belanda, dan negara lain semakin mendominasi.
Pogacar sendiri masih berusia 27 tahun dan memiliki potensi untuk melampaui rekor-rekor yang ada. Dengan fisik yang prima dan mental juara, bukan tidak mungkin ia akan menambah koleksi gelarnya di masa depan. Pertanyaan besarnya: Akankah ia mampu menyamai rekor Eddy Merckx yang meraih 34 kemenangan etape, atau bahkan melampaui lima gelar juara? Hanya waktu yang bisa menjawab, dan para penggemar balap sepeda di seluruh dunia akan terus menyaksikan dengan penuh antisipasi.



