Eskalasi Laut Merah Mengkhawatirkan, Singapura Kecam Serangan Houthi ke Arab Saudi
Baca dalam 60 detik
- Singapura secara resmi mengecam serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal komersial di Laut Merah, menekankan pentingnya kebebasan navigasi sesuai hukum laut internasional.
- Iran menawarkan mediasi antara Houthi dan Riyadh di tengah kekhawatiran eskalasi yang dapat menggoyahkan gencatan senjata Yaman yang sudah rapuh sejak 2022.
- Konflik yang memanas di Laut Merah berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, termasuk yang dilalui Indonesia, serta memicu kenaikan harga minyak dan biaya logistik.

Pemerintah Singapura melontarkan kecaman keras terhadap serangan terbaru kelompok Houthi yang menargetkan fasilitas energi Arab Saudi dan kapal niaga di Laut Merah. Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (MFA) pada Minggu (26/7), Singapura mendesak semua pihak menahan diri dan menghormati hak navigasi sesuai Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS) serta keselamatan pelaut berdasarkan konvensi SOLAS.
Serangan itu terjadi setelah Houthi, yang didukung Iran, mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone Saudi di barat laut Yaman. Sehari sebelumnya, kelompok tersebut menyatakan telah menyerang instalasi minyak Saudi Aramco di Jizan dan Yanbuโsebagai respons atas pemboman Saudi terhadap posisi Houthi. Personel Yunani yang mengoperasikan baterai pertahanan udara di Arab Saudi berhasil menembak jatuh dua rudal balistik dan satu drone di atas Yanbu.
Ketegangan semakin meningkat setelah Houthi pada 20 Juli mengumumkan akan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Langkah itu disebut sebagai balasan atas serangan Saudi terhadap infrastruktur yang dikuasai Houthi, termasuk bandara dan pelabuhan. Pekan sebelumnya, Houthi juga meluncurkan rudal ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi setelah bandara Sanaa yang dikuasai pemberontak dibombardir.
Konflik Yaman yang telah berlangsung lebih dari satu dekadeโsejak Houthi menguasai ibu kota Sanaa pada 2014โkembali memanas. Gencatan senjata yang bertahan sejak 2022 kini dianggap bubar setelah Houthi secara efektif bergabung dalam perang lebih luas yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah Tehran bertanggung jawab atas eskalasi dan justru menawarkan diri menjadi penengah antara Houthi dan Riyadh.
Bagi Indonesia, stabilitas Laut Merah bukan sekadar isu keamanan regional. Sebagai negara maritim yang mengandalkan jalur perdagangan melalui Terusan Suez dan Selat Bab al-Mandab, gangguan di kawasan itu bisa langsung berdampak pada harga minyak mentah dan biaya logistik nasional. Indonesia juga memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi, baik dalam konteks tenaga kerja maupun ekspor-impor. Kenaikan premi asuransi pelayaran dan potensi pengalihan rute kapal akan membebani sektor industri dan konsumen di dalam negeri.
Analis menilai bahwa ketidakmampuan pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan akan memperlebar dampak kemanusiaan dan ekonomi. Puluhan ribu warga Yaman telah tewas akibat perang dan kelaparan, sementara gencatan senjata yang rapuh gagal menghentikan pertumpahan darah. Pertanyaan mendasar kini: akankah tawaran mediasi Iran mampu meredam eskalasi, atau justru memperumit konflik yang sudah berlarut-larut ini?



