Bersatu Luncurkan Manifesto 76 Poin di Negri Sembilan, Targetkan Kemenangan Tanpa Koalisi
Baca dalam 60 detik
- Bersatu resmi meluncurkan manifesto pemilu berisi 76 janji untuk pemilih Negri Sembilan, untuk pertama kalinya bertarung sendirian tanpa koalisi Perikatan Nasional.
- Manifesto 'Tawaran Bersatu Demi Nismilan' menjanjikan bantuan tunai besar-besaran, lapangan kerja bergaji tinggi, dan dana kesehatan, namun sejumlah janji bergantung pada pemerintah federal.
- Partai ini bersaing ketat dengan Barisan Nasional dan Pakatan Harapan, dengan hampir 890.000 pemilih terdaftar pada pemungutan suara 1 Agustus.

Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) meluncurkan manifesto 76 poin untuk pemilihan negara bagian Negri Sembilan pada Sabtu (25/7), langkah pertama mereka bertarung tanpa koalisi Perikatan Nasional dalam pemungutan suara 1 Agustus mendatang. Presiden Bersatu, Tan Sri Muhyiddin Yassin, menegaskan bahwa partainya siap memerintah negara bagian tersebut dengan menawarkan serangkaian janji kampanye yang mencakup hampir setiap kelompok pemilih.
Manifesto bertajuk “Tawaran Bersatu Demi Nismilan” ini dibangun di atas sembilan pilar utama dan menjanjikan bantuan tunai langsung yang melimpah. Ibu baru mendapat RM250, pasangan pengantin RM500, ibu tunggal miskin RM1.000 per tahun, dan perempuan yang bercerai atau berpisah RM300 per bulan selama tiga bulan. Pemilih muda juga diincar dengan hibah startup hingga RM50.000 dan skema RM2 juta untuk membantu pekerja gig pengendara sepeda motor dalam perawatan dan asuransi, sementara 2.000 siswa akan menerima RM50 per bulan untuk transportasi sekolah.
Di bidang kesehatan dan lansia, Bersatu berjanji mendirikan dana penyakit kritis sebesar RM25 juta untuk kanker, jantung, stroke, dan ginjal, skema kesehatan negara bagian RM10 juta, serta bantuan langsung RM500 dan RM300 per tahun bagi warga berusia 60 tahun ke atas. Untuk perumahan, partai menjanjikan dana RM100 juta bagi rumah terjangkau melalui skema sewa-milik. Dari sisi ekonomi, target ambisius 50.000 pekerjaan bergaji tinggi dalam lima tahun melalui koridor industri dan sektor masa depan seperti energi hijau, kendaraan listrik, serta kecerdasan buatan—angka yang sama dengan janji Barisan Nasional sehari sebelumnya.
Namun, sejumlah janji manifesto bergantung pada kerja sama pemerintah federal yang tidak dikuasai Bersatu. Penyelesaian perumahan Felda yang macet dan penggantian pipa air tua membutuhkan koordinasi dengan Putrajaya, sebagaimana diakui dalam dokumen manifesto. Meski begitu, Muhyiddin meyakinkan bahwa janji-janji tersebut dapat diwujudkan “dengan cepat, efisien, dan transparan” serta mencakup seluruh lapisan masyarakat tanpa ada yang tertinggal. “Dengan dukungan solid dan mandat dari rakyat Negri Sembilan, tanpa memandang ras, agama, atau latar belakang, Bersatu akan menang,” ujarnya.
“Tawaran ini mencerminkan komitmen penuh Bersatu untuk memperjuangkan rakyat Negri Sembilan dan menunjukkan bahwa kami siap mengelola negara bagian.” — Tan Sri Muhyiddin Yassin
Konteks Indonesia: Langkah Bersatu bertarung sendirian mengingatkan pada dinamika koalisi di Indonesia, di mana partai-partai kadang memilih jalur independen untuk menunjukkan identitas namun menghadapi risiko fragmentasi suara. Di Malaysia, pemilu negara bagian ini menjadi ujian bagi strategi Bersatu tanpa payung Perikatan Nasional, serupa dengan partai-partai di Indonesia yang kerap menguji kekuatan di Pilkada tanpa koalisi besar. Keberhasilan atau kegagalan janji bantuan tunai dan lapangan kerja akan menjadi barometer kepercayaan publik, khususnya di tengah persaingan ketat dengan Barisan Nasional dan Pakatan Harapan yang juga mengincar kursi yang sama.
Dengan hampir 890.000 pemilih yang terdaftar, pemungutan suara pada 1 Agustus akan menentukan apakah strategi solo Bersatu mampu merebut hati rakyat Negri Sembilan. Jika menang, partai harus membuktikan kemampuan mengelola negara bagian sambil bernegosiasi dengan pemerintah federal yang tidak mereka kuasai. Pertanyaan besarnya: dapatkah janji-janji populis ini dipertahankan tanpa dukungan penuh dari pusat, atau justru menjadi bumerang bagi kredibilitas Bersatu ke depan?



