10 Tahun Menanti, Jenny Shin Akhirnya Juara Scottish Open: 'Kemenangan yang Benar-Benar Kurasakan'
Baca dalam 60 detik
- Jenny Shin memenangkan Women's Scottish Open setelah melalui final round yang menegangkan, finis dengan skor 9-under par.
- Kemenangan ini adalah gelar LPGA kedua Shin dalam 368 turnamen, setelah jeda lebih dari satu dekade sejak gelar pertamanya tahun 2016.
- Cuaca ekstrem dan tekanan mental menjadi tantangan utama, dengan hanya 10 pemain yang mampu menyelesaikan turnamen di bawah par.

Pegolf Korea Selatan, Jenny Shin, akhirnya memutus dahaga gelar setelah menahan tekanan di ronde final Women's Scottish Open di Dundonald Links, Ayrshire. Dengan skor tiga-over 75 pada hari Minggu, Shin tetap bertahan di puncak klasemen dengan total 9-under par, unggul dua pukulan dari rekannya, A-Lim Kim.
Kemenangan ini menjadi gelar kedua Shin di LPGA Tour dalam 368 start—sebuah bukti ketekunan yang luar biasa. Gelar pertamanya datang pada 2016 di Volunteers of America Texas Shootout, yang ia akui terasa ‘tidak sengaja’. Namun, kali ini berbeda. “Kemenangan ini benar-benar saya rasakan. Saya bekerja keras untuk ini,” ujar Shin dengan mata berkaca-kaca setelah melakukan putt terakhir di hole 18, yang langsung disambut guyuran air dan sampanye dari rekan-rekannya.
Perjalanan Shin di ronde final tidak semulus dua hari sebelumnya. Tiga bogey di sembilan hole pertama membuatnya kehilangan keunggulan lima pukulan. Namun, ia mampu bangkit dan mempertahankan keunggulan tipis. A-Lim Kim, yang mencatat skor 68, terus memberi tekanan, sementara Pajaree Anannarukarn dari Thailand finis di posisi ketiga dengan skor -5.
Cuaca Skotlandia yang berubah-ubah—dari cerah hingga hujan badai—menjadi ujian bagi semua pemain. Nelly Korda, yang telah memenangkan dua major musim ini, menggambarkan kondisi tersebut sebagai “tantangan yang membutuhkan komitmen penuh pada setiap pukulan”. Korda menuntaskan ronde dengan 69 dan finis di posisi 16 besar, sementara Charley Hull dari Inggris justru terpuruk di +10.
Kisah Shin menjadi pelajaran tentang kesabaran dan ketekunan, nilai yang relevan bagi olahraga Indonesia. Meskipun belum ada pegolf putri Indonesia yang menembus LPGA secara reguler, prestasi Shin membuktikan bahwa kerja keras konsisten akhirnya membuahkan hasil. “Saya tidak pernah menyerah meskipun sering gagal,” kata Shin. Semangat ini dapat menjadi dorongan bagi atlet-atlet muda Indonesia yang bercita-cita bersaing di level tertinggi.
Turnamen ini juga menjadi ajang pemanasan menjelang major terakhir musim ini, Women's Open, yang akan digelar pekan depan di Royal Lytham & St Annes, Inggris. Dengan kondisi lapangan yang mirip—berangin dan berpotensi hujan—para pemain harus bersiap mental. Pertanyaannya, apakah Shin dapat memanfaatkan momentum kemenangan ini untuk tampil impresif di major? Atau justru Korda—yang sudah haus gelar major ketiga—akan kembali mendominasi? Jawabannya akan dimulai Kamis mendatang.



