Topan Noul Hantam China Selatan: 20.000 Jiwa Dievakuasi, Penerbangan Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Topan Noul diperkirakan mendarat di pesisir Hong Kong dan Guangdong pada akhir pekan, memicu evakuasi massal dan penghentian layanan kereta.
- Sebelumnya, Topan Maysak menewaskan 39 orang di Guangxi, menambah rentetan bencana cuaca ekstrem di China selatan sepanjang bulan ini.
- Gangguan penerbangan di Hong Kong dan pembatalan rute Singapore Airlines menyoroti dampak luas topan terhadap konektivitas regional, termasuk ke Indonesia.

Otoritas China mengevakuasi lebih dari 20.000 warga dan menghentikan layanan kereta di Provinsi Guangdong saat Topan Noul diperkirakan menghantam kawasan pesisir Hong Kong hingga Guangdong pada Sabtu malam hingga Minggu pagi, 25-26 Juli 2026.
Pusat Meteorologi Nasional China menaikkan status siaga topan ke level oranye, peringatan tertinggi kedua dalam sistem empat tingkat mereka. Angin kencang dan hujan deras diperkirakan melanda Guangdong dan Provinsi Fujian yang bertetangga. Pelabuhan-pelabuhan di Guangdong sudah memerintahkan kapal nelayan untuk berlindung, sementara sekolah di Kota Chaozhou ditutup sementara.
Bandara Internasional Hong Kong melaporkan gangguan penerbangan signifikan: hingga pukul 16.50 waktu setempat, 29 penerbangan keberangkatan dan 20 penerbangan kedatangan dibatalkan, serta 126 keberangkatan dan 112 kedatangan tertunda. Otoritas bandara memperkirakan lebih banyak jadwal terganggu pada Minggu. Singapore Airlines juga membatalkan tiga penerbangannya akibat cuaca buruk, dan akan menghubungi penumpang terdampak.
Bencana ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Topan Maysak memicu banjir bandang di Guangxi yang merenggut 39 jiwa. Maysak juga menimbulkan badai petir dan angin kencang di Hubei, menewaskan 11 orang dan melukai 331. Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil akan meningkatkan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem semacam ini.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung Topan Noul, dampak tidak langsung patut dicermati. Gangguan penerbangan di Hong Kong berpotensi menghambat konektivitas udara dengan Indonesia, terutama bagi penumpang yang transit di hub tersebut. Selain itu, pola cuaca ekstrem yang makin sering di kawasan Asia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di tanah air. China sendiri, sebagai penghasil emisi terbesar dunia, tengah bertransisi menuju netralitas karbon pada 2060, namun bencana tahun ini menunjukkan urgensi aksi iklim yang lebih cepat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana perubahan iklim akan mengubah peta risiko bencana di Asia Tenggara. Apakah topan seperti Noul akan menjadi โnormal baruโ yang menuntut adaptasi infrastruktur dan sistem peringatan dini yang lebih tangguh?



