The Fed Tahan Suku Bunga, Namun Ketegangan Meningkat di Internal Bank Sentral AS
Baca dalam 60 detik
- Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75% pada pertemuan Rabu, namun sejumlah anggota mengisyaratkan perlunya kenaikan untuk meredam inflasi.
- Inflasi yang dipicu perang Iran dan guncangan pasokan global membuat para 'elang' di The Fed semakin vokal, menuntut respons kebijakan yang lebih agresif.
- Keputusan The Fed akan berdampak pada nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan prospek suku bunga acuan Bank Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Federal Reserve diperkirakan kembali menahan suku bunga acuan pada level 3,50 hingga 3,75 persen dalam pengumuman Rabu (30/7) waktu Washington, namun tekanan dari kubu hawkish yang menginginkan kenaikan suku bunga semakin kuat di tengah inflasi yang terus membara akibat perang Iran dan gangguan rantai pasok global.
Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) setelah dua hari pertemuan tertutup itu akan diumumkan pukul 14.00 waktu setempat, dilanjutkan konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh. Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, mayoritas investor masih memperkirakan suku bunga bertahan untuk kelima kalinya berturut-turut, namun taruhan untuk kenaikan suku bunga terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Inflasi konsumen AS memang sedikit melambat ke 3,5 persen year-on-year pada Juni, tetapi para analis memperingatkan bahwa angka tersebut bisa kembali meroket seiring fluktuasi harga minyak akibat eskalasi konflik Iran. Harga energi dan pupuk yang melonjak sejak Maret telah merembet ke berbagai barang konsumen lainnya, menekan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah.
Ketidakpastian yang menyelimuti pertemuan kali ini tergolong tidak biasa. Sejak menjabat, Warsh enggan membagikan pandangannya secara terbuka mengenai prospek ekonomi sebagai bagian dari reformasi untuk mengurangi panduan ke depan (forward guidance) yang selama ini diberikan bank sentral. "Ini adalah pertemuan yang sangat tidak biasa karena kami benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ketua The Fed saat ini," ujar Gregory Daco, kepala ekonom EY-Parthenon.
Gubernur The Fed Christopher Waller pada 13 Juli lalu menegaskan bahwa bank sentral "harus siap memperketat kebijakan moneter untuk mencegah terulangnya episode inflasi 2021-2022." Ia menambahkan, "Menatap inflasi dengan tajam sampai meleleh di depan tatapan kita yang melemah bukanlah pilihan." Pernyataan tegas itu mencerminkan kekhawatiran bahwa guncangan bertubi-tubi—pandemi, perang Rusia-Ukraina, kebijakan tarif Trump, dan kini perang Iran—telah membentuk "memori otot" di kalangan pelaku usaha untuk terus menaikkan harga.
Diane Swonk, kepala ekonom KPMG, memperkirakan tidak akan ada kenaikan suku bunga dalam pertemuan ini, tetapi ia meyakini akan muncul suara dissenting dari anggota FOMC yang menginginkan kenaikan. "Kami mungkin memiliki ketua baru, tetapi garda lama kini khawatir ke mana arah perekonomian sejak awal tahun," katanya. Swonk menambahkan bahwa kubu hawkish di The Fed tidak hanya mengeras tetapi juga meluas. Ia memproyeksikan dua kenaikan suku bunga pada paruh kedua 2025 jika inflasi kembali meningkat.
Inflasi yang tinggi bersifat "korosif" dan menghantam rumah tangga berpenghasilan rendah lebih keras dibanding kelompok berpenghasilan tinggi yang konsumsinya tetap kuat. "Inflasi menghantam mereka yang paling tidak mampu membayarnya, dan sekarang merambat ke atas," ujar Swonk. Kekhawatiran terbesarnya adalah ekspektasi inflasi rumah tangga dan bisnis yang mulai tidak terkendali, yang justru menjadi tugas utama The Fed untuk mencegahnya.
Bagi Indonesia, sikap The Fed yang hawkish berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu arus modal keluar. Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan tinggi untuk menjaga stabilitas, namun jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada akhir tahun, tekanan terhadap neraca pembayaran dan inflasi impor bisa semakin berat. Pasar keuangan domestik akan mencermati setiap sinyal dari konferensi pers Warsh untuk mengukur arah kebijakan moneter global ke depan.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah The Fed tetap bertahan pada sikap wait-and-see, atau justru mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga lebih awal? Jawabannya akan menentukan arah pergerakan dolar AS, harga komoditas, dan stabilitas ekonomi negara berkembang seperti Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.



