Kelapa Adonara: Menggerakkan Ekonomi Hijau dan Transisi Energi Berbasis Komunitas di Flores Timur
Baca dalam 60 detik
- Produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639 ton pada 2025, tertinggi di NTT, dengan inovasi rumah jemur surya yang mempercepat pengolahan kopra.
- Kelompok energi terbarukan (Konten) yang digerakkan perempuan dan difabel mengolah kelapa menjadi briket, arang, dan kopra bersih, menekan ketergantungan pada kayu bakar.
- Program simpan pinjam SILC memperkuat kemandirian ekonomi anggota, membebaskan mereka dari jeratan rentenir.

Hamparan kebun kelapa di Pulau Adonara, Flores Timur, tak sekadar menjadi pemandangan hijau yang menyejukkan. Di baliknya, komoditas ini menjelma motor penggerak ekonomi hijau dan transisi energi yang melibatkan perempuan, difabel, dan kelompok rentan. Dengan produksi mencapai 18.639 ton pada 2025โtertinggi di NTTโkelapa Flores Timur kini tidak hanya dijual dalam bentuk gelondongan atau kopra konvensional, tetapi juga diolah menjadi briket dan arang bernilai tambah.
Inovasi utama terletak pada rumah jemur bertenaga surya yang dibangun Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS). Rumah jemur berbahan balok kelapa bertingkat dua, dilapisi plastik UV, mampu menampung hingga 3.000 kelapa dan memproduksi 700 kilogram kopra hanya dalam 3โ4 hari. Sebelumnya, penjemuran di tanah dengan terpal memakan waktu seminggu lebih. Kopra yang dihasilkan pun lebih bersih dan dihargai lebih tinggi. Puluhan rumah jemur kini tersebar di enam desa di Pulau Adonara dan Flores, dampingan YPPS yang telah berjalan hampir tiga tahun.
Tempurung kelapa pun tak terbuang. Di tangan kelompok Konten (Kelompok Energi Terbarukan), tempurung dibakar menjadi arang, lalu digiling dan dicampur kanji untuk dicetak menjadi briket. Briket dijual Rp13.000 per kilogram dan telah dipasok hingga satu ton ke rumah makan serta warga untuk acara hajatan. Ini menggantikan kayu bakar dan minyak tanah, sekaligus menekan deforestasi. โBanyak rumah makan membeli hingga satu ton. Warga Flores Timur juga membeli untuk kebutuhan masak saat hajatan atau pesta,โ ujar Elisabet Fuer, Ketua Konten Wolosina Watoboki, akhir Juni 2026.
Program ini tidak hanya menyoal energi, tetapi juga inklusivitas. Konten di setiap desa merangkul perempuan dan difabel. Agnes Masa Laot, Ketua Konten Ina Sayang Desa Lambuga, menceritakan bahwa dua anggota perempuan difabel ikut mengupas kelapa dan membuat briket. Kelompok ini juga menjalankan simpan pinjam SILC (Savings and Internal Lending Communities), di mana anggota menabung mingguan Rp2.000 dan dapat meminjam tanpa bunga rentenir. Siklus tabungan 9โ12 bulan, ditutup dengan pembelian aset sesuai impian anggota. โSILC membuat anggota terbebas lilitan utang rentenir atau lembaga keuangan,โ tegas Agnes.
Direktur YPPS, Melki Koli Baran, menekankan bahwa pendekatan ini relevan untuk NTT, di mana mayoritas berpendapatan harian. โJika tidak ditabung, akan habis. Besaran simpanan, tergantung pendapatan masing-masing anggota,โ ujarnya. Ke depan, peremajaan kelapa varietas dalam Adonara yang berdaging tebal terus dilakukan. Tahap awal, 3.000 bibit ditanam di enam desa, mengingat umur pohon kelapa rata-rata 30 tahun. Pertanyaannya, bisakah model ekonomi hijau berbasis komunitas ini direplikasi ke daerah lain di Indonesia yang memiliki potensi serupa?



