BTS Boyong Diri dari Grammy 2027: Kritik Kategori Asia yang Dianggap Memasung
Baca dalam 60 detik
- Tujuh personel BTS secara serempak mengumumkan penolakan mengirimkan karya mereka ke ajang Grammy 2027, menyoal aturan kategori baru yang dinilai membatasi ekspresi musikal berdasarkan bahasa.
- Padahal, album comeback 'Arirang' dan single 'Swim' diprediksi menjadi pesaing kuat di kategori utama, namun terganjal syarat konten bahasa Asia yang hanya mencakup 20% lirik.
- Keputusan ini menambah daftar panjang boikot artis global terhadap Grammy, sekaligus menyoroti dilema industri musik Korea yang masih berjuang mendapatkan pengakuan tanpa harus mengorbankan identitas.

BTS, grup pop asal Korea Selatan, secara mengejutkan mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengirimkan materi musik untuk dinominasikan pada ajang Grammy Awards 2027. Pengumuman yang diunggah serempak oleh ketujuh anggota di Instagram pada Rabu (13/3) itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar dan industri musik global.
Dalam pernyataan yang diterjemahkan, grup yang beranggotakan RM, Jimin, V, Suga, Jungkook, Jin, dan J-Hope ini menegaskan, “Kami memutuskan untuk tidak memasuki Grammy tahun ini. Kami berharap musik dapat didengar dan dicintai apa adanya, bukan dibagi berdasarkan kawasan atau bahasa.” Kalimat tersebut secara eksplisit merujuk pada kategori baru yang baru diperkenalkan bulan lalu: Best Asian Pop Music Performance.
Kategori anyar itu mensyaratkan lagu yang dinominasikan harus mengandung “penggunaan bermakna” bahasa Asia. Aturan ini menjadi kendala besar bagi BTS. Album terbaru mereka, Arirang, yang dirilis tahun ini dan langsung menjadi salah satu album terlaris, ternyata lebih dari 80 persen liriknya berbahasa Inggris. Singel utamanya, Swim, bahkan berhasil menjadi nomor satu di Amerika Serikat dan diprediksi bakal masuk nominasi Song of the Year. Namun, dengan aturan baru itu, Swim otomatis tidak memenuhi syarat untuk kategori Asia.
Langkah BTS ini tidak bisa dilepaskan dari kontroversi yang menyelimuti kategori baru tersebut. Banyak penggemar K-Pop di media sosial menilai kategori itu justru mengkotak-kotakkan musisi Asia, bukan merayakan keberagaman mereka. BTS, dengan memilih kata “kawasan” dan “bahasa” dalam pernyataannya, seolah mengamini kekhawatiran itu. Mereka juga menyampaikan pesan khusus untuk penggemar, yang dikenal sebagai Army, “Terima kasih kepada Army dan semua yang selalu bersama kami.”
Fenomena boikot Grammy sebenarnya bukan hal baru. Sebelum BTS, sejumlah nama besar seperti The Weeknd, Morgan Wallen, Frank Ocean, hingga Will Smith pernah mengambil sikap serupa. Bahkan pada 2020, Drake melalui media sosial menyerukan agar ajang penghargaan itu diganti total, karena dianggap gagal mengapresiasi musik kulit hitam dan rap secara adil. “Kita harus berhenti terkejut setiap tahun melihat kesenjangan antara musik yang berdampak dan penghargaan ini,” tulisnya saat itu.
Di sisi lain, Recording Academy selaku penyelenggara Grammy sebenarnya sudah berupaya mengakomodasi gelombang K-Pop. Pada 2025, Akademi memperluas keanggotaan voting dengan mengundang sejumlah musisi dan produser Korea, termasuk Jungwon dari Enhypen, Woozi dan Vernon dari Seventeen, serta Huh Yunjin dari Le Sserafim. Tahun ini, anggota Twice dan Stray Kids juga diberikan hak suara. Namun, upaya tersebut belum mampu menjembatani perbedaan pandangan soal representasi.
Bagi penggemar K-Pop di Indonesia, keputusan BTS ini menuai beragam reaksi. Sebagian besar mendukung langkah grup idola mereka sebagai bentuk penolakan terhadap standar Barat yang kerap mengerdilkan musik Asia. “Ini menunjukkan bahwa BTS tidak mau dikotak-kotakkan. Mereka ingin diakui sebagai musisi global, bukan sekadar perwakilan Asia,” ujar seorang pengamat musik dari Universitas Indonesia, menanggapi perkembangan ini. Namun, ada juga yang khawatir boikot ini justru akan mengurangi eksposur musik Korea di panggung internasional.
Ke depan, langkah BTS ini diprediksi akan memicu diskusi lebih luas tentang masa depan Grammy dan bagaimana ajang ini beradaptasi dengan lanskap musik dunia yang semakin multipolar. Apakah kategori baru akan direvisi? Atau justru makin banyak artis Asia yang mengambil sikap serupa? Satu hal yang pasti: BTS telah membuka babak baru dalam hubungan antara industri musik Korea dan institusi penghargaan global.


