Diplomasi Jepang-Korsel Memanas: Rombongan Lintas Partai Siap ke Seoul Akhir Agustus
Baca dalam 60 detik
- Rombongan lintas partai Jepang berencana mengunjungi Korea Selatan pada akhir Agustus untuk membahas kerja sama bilateral.
- Kunjungan ini merupakan langkah lanjutan setelah pertemuan tokoh Jepang dengan Presiden Korsel, menandai perbaikan hubungan setelah ketegangan masa lalu.
- Penguatan hubungan antarparlemen diharapkan mendorong kerja sama ekonomi dan pertukaran masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Rombongan anggota parlemen Jepang dari berbagai partai dijadwalkan melawat ke Korea Selatan pada akhir Agustus, sebuah langkah strategis untuk memperkuat hubungan bilateral yang sempat renggang akibat sejarah masa lalu.
Kunjungan yang dipimpin oleh Ryota Takeda, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat yang berkuasa, ini merupakan bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan antara Tokyo dan Seoul. Rombongan dijadwalkan bertemu dengan mitra mereka dari parlemen Korea Selatan untuk mematangkan agenda sidang umum bersama yang akan digelar di Tokyo pada November mendatang. Pertemuan juga direncanakan dengan sejumlah pejabat tinggi Korea Selatan.
Takeda sebelumnya telah bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Seoul pada bulan lalu. Keduanya sepakat bahwa kerja sama yang lebih erat, termasuk di tingkat parlemen dan sektor swasta, sangat diperlukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Isu-isu yang masih menggantung, pertukaran antarmasyarakat, serta kerja sama ekonomi menjadi topik utama dalam diskusi nanti.
Bagi Indonesia, yang berada di kawasan Asia Timur, perbaikan hubungan antara Jepang dan Korea Selatan membawa implikasi positif. Kedua negara merupakan mitra dagang utama dan investor signifikan di Indonesia. Stabilitas dan kerja sama di antara mereka dapat memperkuat rantai pasok regional serta membuka peluang investasi baru. Di sisi lain, Indonesia juga dapat belajar dari proses rekonsiliasi historis yang ditempuh kedua negara.
Perjalanan diplomasi ini merupakan babak baru setelah hubungan Tokyo-Seoul mengalami pasang surut akibat isu kolonialisme Jepang di Semenanjung Korea (1910-1945). Pada 2023, perdana menteri dan presiden saat itu, Fumio Kishida dan Yoon Suk Yeol, berhasil mencairkan ketegangan melalui kesepakatan mengenai pekerja paksa masa perang. Kini, perdana menteri Sanae Takaichi dan presiden Lee Jae Myung melanjutkan tradisi kunjungan timbal balik tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah momentum ini akan menghasilkan kesepakatan konkret di bidang ekonomi dan keamanan, atau sekadar menjadi ajang seremonial belaka.



