Laba Bersih ANA Holdings Merosot 15,4% di Tengah Lonjakan Penjualan Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Meskipun pendapatan melonjak 22,6%, laba bersih ANA Holdings turun 15,4% pada kuartal pertama 2026 akibat membengkaknya biaya operasional.
- Penurunan laba usaha hingga 43,5% mengindikasikan tekanan margin yang dihadapi maskapai di tengah permintaan perjalanan yang kuat.
- Proyeksi laba tahun fiskal 2026/2027 tetap dipertahankan, mengisyaratkan optimisme hati-hati terhadap pemulihan rute internasional.

Meskipun permintaan perjalanan udara global terus menguat, ANA Holdings, induk maskapai penerbangan terbesar Jepang, melaporkan penurunan laba bersih hingga 15,4% pada kuartal pertama tahun fiskal 2026.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (29/7), ANA mencatat laba bersih 19,41 miliar yen (sekitar 119 juta dolar AS) untuk periode April hingga Juni, turun dari 22,93 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pendapatan operasional justru melesat 22,6% menjadi 672,73 miliar yen, didorong oleh tingginya minat masyarakat untuk bepergian pasca-pandemi.
Namun, kenaikan pendapatan tersebut tidak sebanding dengan lonjakan biaya operasional. Laba usaha ANA terkoreksi tajam 43,5% menjadi 20,78 miliar yen. Analis menilai bahwa tekanan biaya bahan bakar, kenaikan upah staf, serta investasi di armada baru menjadi faktor utama yang menggerus margin keuntungan perseroan.
Bagi Indonesia, kinerja ANA menjadi sinyal penting mengingat Jepang merupakan salah satu pasar wisatawan utama. Kementerian Pariwisata Indonesia menargetkan 2,5 juta wisatawan Jepang pada 2026. Jika ANA mengurangi kapasitas penerbangan ke Indonesia—khususnya rute Tokyo-Jakarta dan Tokyo-Denpasar—hal itu bisa menghambat pencapaian target tersebut. Di sisi lain, maskapai pesaing seperti Garuda Indonesia dan maskapai berbiaya rendah dapat memanfaatkan celah ini untuk meningkatkan pangsa pasar.
Meskipun kinerja kuartal pertama mengecewakan, manajemen ANA mempertahankan proyeksi untuk tahun fiskal penuh yang berakhir Maret 2027. Perusahaan masih memperkirakan laba bersih 96 miliar yen, turun 43,2% dibanding tahun sebelumnya, dengan pendapatan mencapai 2,77 triliun yen, tumbuh 9,1%. Keyakinan ini didasarkan pada perkiraan pemulihan permintaan perjalanan bisnis dan internasional yang lebih kuat pada semester kedua. Namun, menurut analis penerbangan dari firma riset Tokyo, overcapacity di rute domestik Jepang dan fluktuasi harga bahan bakar tetap menjadi risiko besar.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah ANA mampu mengendalikan biaya tanpa mengorbankan pertumbuhan di tengah persaingan ketat dengan maskapai berbiaya rendah dan maskapai Timur Tengah? Jika tidak, bukan tidak mungkin target laba tahunan tersebut harus direvisi ke bawah, menambah kekhawatiran investor terhadap prospek industri penerbangan regional.



