Yayasan Sarah Ferguson Resmi Dibubarkan, Jejak Kontroversi Epstein Berujung Tutup
Baca dalam 60 detik
- Sarah's Trust, yayasan yang digagas Sarah Ferguson pada 2020, secara resmi dihapus dari daftar badan amal Inggris setelah sebelumnya mengumumkan penutupan sementara.
- Dokumen Departemen Kehakiman AS mengungkap pertukaran surat elektronik antara Ferguson dan Epstein, memicu pemutusan hubungan dari enam lembaga amal yang menjadikannya patron.
- Kasus ini menegaskan pentingnya transparansi dan uji tuntas dalam pengelolaan yayasan, relevan bagi lembaga filantropi di Indonesia yang mengandalkan kepercayaan publik.

Yayasan amal Sarah's Trust, yang didirikan oleh Sarah Ferguson—mantan istri Pangeran Andrew—resmi dibubarkan dan dicoret dari daftar badan amal publik, setelah sebelumnya menyetop operasinya pada awal tahun ini. Keputusan ini menjadi puncak dari serangkaian dampak akibat keterkaitan Ferguson dengan almarhum terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Lembaga nirlaba yang digagas sejak 2020 itu mengklaim fokus pada penanganan krisis kemanusiaan, lingkungan, dan kemiskinan ekstrem. Namun, pada Februari lalu, pengurus yayasan mengumumkan penghentian kegiatan untuk waktu yang tidak ditentukan, setelah munculnya dokumen pengadilan Amerika Serikat yang memperlihatkan komunikasi Ferguson dengan Epstein saat ia masih dipenjara. Dalam salah satu pesan tahun 2011, Ferguson menyebut Epstein sebagai "sahabat sejati, dermawan, dan utama".
Juru bicara Ferguson membantah bahwa dukungan terhadap Epstein bersifat tulus. Menurut pernyataan resmi, surat elektronik tersebut dikirim atas saran pengacara untuk meredam ancaman hukum dari Epstein. "Duchess menyesali keterkaitannya dengan Epstein, dan pikirannya selalu tertuju pada para korban," ujar sang juru bicara. "Seperti banyak orang lain, ia tertipu oleh kebohongannya."
Kontroversi ini memicu reaksi berantai. Pada September 2023, enam lembaga amal besar—termasuk Teenage Cancer Trust, British Heart Foundation, dan Julia's House—menyatakan Ferguson tidak lagi layak menjadi patron. Prevent Breast Cancer juga mengonfirmasi pemutusan hubungan. Pendiri Natasha Allergy Research Foundation, Nadim dan Tanya Ednan-Laperouse, menyebut keterlibatan Ferguson sudah tidak aktif selama bertahun-tahun, dan keputusan ini diambil demi menjaga integritas organisasi.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bagi lembaga filantropi dan masyarakat tentang pentingnya uji tuntas dalam memilih figur publik sebagai patron atau donatur. Reputasi dan transparansi menjadi kunci keberlanjutan yayasan, terutama di era di mana informasi pribadi tokoh publik mudah diakses. Publik Indonesia pun semakin kritis terhadap jejak etis para figur yang mendukung kegiatan amal, sebagaimana terlihat dalam beberapa kasus serupa di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah jejak digital dan hubungan masa lalu seseorang dapat sepenuhnya dipisahkan dari kontribusi filantropisnya? Kasus Sarah's Trust menunjukkan bahwa batas antara kebaikan dan kontroversi sering kali kabur, dan lembaga amal harus siap menghadapi risiko reputasi yang melekat pada para pendukungnya.



