Harga Minyak Anjlok, Wall Street Terbelah: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Brent merosot 4% ke bawah US$97 setelah Houthi mengklaim tidak memblokir selat strategis, meredakan ketegangan pasokan.
- Wall Street mixed: Dow dan S&P 500 naik, namun Nasdaq tertekan aksi jual saham semikonduktor di tengah ketidakpastian geopolitik.
- Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed melonjak menjadi 30% untuk bulan depan dan 90% hingga akhir tahun, membayangi pasar global.

Minyak mentah Brent kembali merosot ke bawah US$97 per barel pada Jumat (24/7), setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis US$100 akibat serangan Houthi di Laut Merah. Pernyataan kelompok Yaman itu bahwa mereka tidak memblokir lalu lintas di Selat Bab al-Mandeb memberikan sedikit kelegaan bagi pasar, namun ketegangan geopolitik masih membayangi prospek pasokan energi global.
Harga Brent turun sekitar empat persen, kontras dengan lonjakan tujuh persen pada Kamis. Di Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) juga terkoreksi lebih dari tiga persen setelah melesat enam persen sehari sebelumnya. Pergerakan liar ini dipicu oleh serangan Houthi terhadap kapal tanker di Laut Merah yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Meski demikian, analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai bahwa kapal-kapal pengangkut minyak Saudi masih bisa melintasi selat tersebut, sehingga risiko blokade penuh belum terjadi.
Di Wall Street, indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat, sementara Nasdaq justru melemah karena saham semikonduktor kembali tertekan. Angelo Kourkafas dari Edward Jones menggambarkan pasar saat ini diliputi ketidakpastian akibat peristiwa geopolitik yang sulit diprediksi dan kebingungan mengenai bagaimana The Fed akan menyikapi lonjakan harga minyak. Di sisi lain, skeptisisme terhadap keberlanjutan laba perusahaan yang tinggi juga membebani sentimen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan meningkat tajam dari 13 persen menjadi 30 persen, menurut analis Trade Nation, David Morrison. Lebih serius lagi, FedWatch Tool menunjukkan probabilitas 90 persen untuk setidaknya satu kenaikan 25 basis poin sebelum akhir tahun. Skenario ini berpotensi menguatkan dolar AS dan menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak memberikan angin segar bagi anggaran subsidi energi yang selama ini membebani fiskal. Namun, fluktuasi pasar global dan potensi kenaikan suku bunga AS dapat memicu arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi domestik. IHSG berpotensi tertekan jika sentimen risk-off kembali mendominasi, sementara Bank Indonesia harus mencermati stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Minggu depan, pasar akan disibukkan dengan rilis laporan keuangan raksasa teknologi seperti Amazon dan Apple, serta emiten industri seperti Boeing dan Ford. Data ini akan menjadi ujian apakah valuasi saham teknologi yang tinggi masih bisa dipertahankan. Pertanyaan besarnya: apakah penurunan harga minyak ini cukup untuk menstabilkan pasar, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya?



