Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Bahrain, Yordania, dan Kuwait dengan Drone
Baca dalam 60 detik
- Teheran mengaku melancarkan serangan drone ke pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di tiga negara Teluk sebagai respons atas serangan AS terbaru terhadap Iran.
- Selain sasaran militer, Garda Revolusi Iran juga mengklaim menyerang pusat data milik Amazon di Bahrain, meski belum ada konfirmasi dari Amazon atau Bahrain.
- Hingga saat ini, AS belum mengonfirmasi adanya serangan terhadap personel atau fasilitasnya, sementara Bahrain melaporkan telah mencegat sejumlah 'agresi udara Iran'.

Iran secara resmi mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap sejumlah pangkalan milik Amerika Serikat di Bahrain, Yordania, dan Kuwait pada Jumat (24/7). Tindakan ini disebut sebagai balasan langsung atas serangan terbaru yang dilakukan AS terhadap republik Islam tersebut, memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah yang sudah tegang.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran, militer Iran mengatakan bahwa mereka menggunakan drone kamikaze Arash untuk menyerang tangki bahan bakar, gudang peralatan besar, dan barak pasukan AS di Pangkalan Udara Isa di Bahrain. Sementara itu, Garda Revolusi Iran—sayap ideologis militer—mengklaim telah menghancurkan depot amunisi dan menimbulkan korban di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta menyerang menara pengawas Armada Kelima AS di Bahrain.
Selain sasaran militer, Garda Revolusi juga menyatakan telah menyerang pusat data milik raksasa teknologi Amazon di Bahrain, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran. Namun, baik Amazon maupun pemerintah Bahrain belum memberikan komentar terkait klaim tersebut. Seorang jurnalis AFP di Bahrain melaporkan adanya ledakan dan bunyi sirene peringatan, meskipun belum dapat dipastikan kaitannya dengan serangan yang diklaim Iran.
Hingga berita ini diturunkan, AS belum memberikan konfirmasi mengenai adanya serangan terhadap personel atau fasilitasnya. Bahrain, melalui pernyataan resmi, mengaku telah mencegat dan menghancurkan 'sejumlah agresi udara Iran' serta menuduh Teheran menargetkan warga sipil. Sementara itu, Yordania belum melaporkan adanya serangan dalam beberapa jam terakhir, meskipun Iran mengklaim telah menyerang hanggar pesawat dan barak di Pangkalan Al-Azraq.
Teheran telah menyatakan bahwa setiap pangkalan atau fasilitas di Timur Tengah yang digunakan AS untuk menyerang Iran dianggap sebagai target sah pembalasan. Retorika ini menandakan bahwa Iran tidak akan segan memperluas sasaran serangannya jika konflik berlanjut. Bagi Indonesia, eskalasi ini perlu dicermati mengingat ketergantungan negara pada impor minyak dari kawasan Teluk. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakstabilan geopolitik dapat membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi.
Para analis menilai bahwa serangan Iran kali ini merupakan ujian terhadap postur pertahanan AS di kawasan. Washington kemungkinan akan merespons, baik melalui serangan balik langsung maupun peningkatan kehadiran militer. Jika konflik meluas, jalur pelayaran utama di Selat Hormuz—yang dilalui sepertiga minyak dunia—bisa terganggu. Pertanyaannya, sejauh mana Teheran bersedia mengambil risiko perang terbuka, dan apakah AS akan menahan diri untuk menghindari konflik regional yang lebih besar?



