Bukan Dendam atau Emosi, Ini Alasan Ilmiah Gurita Betina Memakan Pasangan Setelah Kawin
Baca dalam 60 detik
- Kanibalisme seksual pada gurita betina dipicu oleh kebutuhan energi reproduksi dan perubahan hormonal, bukan karena penolakan emosional seperti mitos yang beredar.
- Pejantan gurita bergaris biru memiliki strategi unik: menyuntikkan racun saraf ke betina agar tetap hidup selama kopulasi, meski ukuran tubuhnya jauh lebih kecil.
- Penelitian menunjukkan variasi perilaku antarspesies, membuka peluang kajian lebih dalam tentang evolusi reproduksi gurita, termasuk di perairan Indonesia.

Gurita betina yang memakan pasangannya usai kawin bukanlah aksi balas dendam atau tanda sedang bad mood, melainkan strategi reproduksi yang didorong oleh kebutuhan energi dan kendali hormonal. Selama bertahun-tahun, narasi populer di media sosial menggambarkan kanibalisme seksual ini sebagai respons emosional, padahal riset ilmiah membantah keras anggapan tersebut.
Sebuah studi terbaru dari Universitas Queensland yang dipublikasikan di jurnal Current Biology mengungkap mekanisme rumit di balik perilaku ini. Pada gurita bergaris biru (Hapalochlaena fasciata), betina yang berukuran dua kali lebih besar dari pejantan menjadi ancaman nyata. Untuk mengatasinya, pejantan menggigit area dekat aorta betina dan menyuntikkan tetrodotoxin—racun saraf yang melumpuhkan sementara. Dalam percobaan terhadap enam pasang, betina berhenti bernapas sekitar delapan menit setelah gigitan dan mengalami kondisi mati suri selama proses kopulasi yang bisa berlangsung satu jam, namun selamat dan bertelur 3–29 hari kemudian.
Peneliti juga menemukan bahwa kelenjar optik pada gurita betina memainkan peran sentral. Studi tahun 1977 menunjukkan bahwa pengangkatan kelenjar ini membuat betina berhenti mengerami telur, kembali makan, dan hidup lebih lama. Penelitian lanjutan dari University of Chicago mengungkap perubahan metabolisme kolesterol di kelenjar optik yang memicu produksi hormon steroid—mematikan nafsu makan dan meningkatkan agresivitas di sekitar sarang. Betina kemudian mengabdikan diri menjaga telur hingga sumber energinya habis, dan mati tak lama setelah telur menetas.
Namun, tidak semua gurita mengikuti pola ini. Larger Pacific Striped Octopus (LPSO), misalnya, kawin berhadapan dan bahkan berbagi sarang tanpa kanibalisme. Variasi ini menunjukkan bahwa perilaku reproduksi gurita jauh lebih beragam daripada gambaran umum. Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati laut melimpah, pemahaman ini penting untuk penelitian ekologi dan konservasi gurita di masa depan.
Ke depan, para ilmuwan berharap dapat mengungkap lebih banyak variasi strategi reproduksi gurita di berbagai perairan, termasuk di Indonesia. Pertanyaan yang masih menggantung: sejauh mana mekanisme serupa terjadi pada spesies lokal, dan apa implikasinya bagi keseimbangan ekosistem laut?



