Serangan Rudal Rusia Hantam Pameran Senjata di Dekat Kyiv, Sepuluh Tewas
Baca dalam 60 detik
- Rudal balistik Rusia menghantam lokasi pameran alat pertahanan di luar Kyiv, menewaskan 10 orang dan melukai sekitar 100.
- Kejaksaan Agung Ukraina membuka penyelidikan kriminal terhadap penyelenggara acara yang dinilai lalai dalam menerapkan protokol keselamatan di masa perang.
- Peristiwa itu memicu perdebatan tentang risiko penyelenggaraan event publik di zona konflik serta mendorong evaluasi ulang prosedur keamanan di negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Serangan rudal Rusia menghantam sebuah pameran alat pertahanan di pinggiran Kyiv pada Jumat (24/7), menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai sekitar 100 lainnya, serta memicu investigasi kriminal atas kelalaian penyelenggaraan di tengah perang.
Lokasi kejadian berada di sebuah lapangan tembak yang dijadikan tempat pameran berbagai jenis pesawat nirawak buatan Ukraina dan asing. Menurut keterangan resmi, Moskwa menyasar pameran yang menampilkan drone yang disebut-sebut digunakan untuk menyerang sasaran sipil di dalam wilayah Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidato malamnya menegaskan bahwa acara semacam itu seharusnya tidak digelar dalam kondisi perang. "Melawan musuh seperti ini, sama sekali tidak boleh mengadakan pameran senjata dengan kerumunan besar, apalagi di dekat permukiman penduduk," ujarnya.
Pasca-serangan, sejumlah pejabat dan pelaku industri pertahanan Ukraina menyuarakan kemarahan. Penasihat kepresidenan Sergiy Beskrestnov mengecam penyelenggara yang tidak menyediakan tempat perlindungan dan justru mempromosikan acara di media sosial. Kepala Brave1, kelompok pertahanan bentukan pemerintah, Andriy Grytseniuk, mendesak semua pihak yang terlibat dalam industri pertahanan untuk segera meninjau kembali protokol keselamatan. Sementara itu, pejabat setempat Alla Lakhmaniuk mengungkapkan kemarahan karena pemerintah kota tidak pernah memberikan izin untuk acara tersebut. "Semua orang sangat kecewa karena acara seperti ini digelar tepat di samping rumah warga," katanya.
Pemandangan di lokasi kejadian memperlihatkan tenda-tenda promosi masih berdiri dengan drone terpajang di bawahnya, layar masih memutar video promosi perusahaan senjata, dan di balik kendaraan tergeletak jenazah dengan wajah berlumuran darah. Rumah-rumah di sekitar lapangan tembak hancur, puing berserakan, dan apel hangus dari pohon yang roboh bertebaran. Seorang warga, Natalia Perevalova, bersyukur karena cucu-cucunya tidak berada di rumah saat serangan terjadi. "Saya sangat bersyukur pada Tuhan," ucapnya sambil memeluk anjing kecilnya.
Konteks Indonesia: Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya manajemen risiko dalam setiap penyelenggaraan pameran berskala besar, terutama yang menampilkan persenjataan. Meskipun Indonesia tidak berada dalam situasi konflik terbuka, prosedur keamanan di ajang seperti Indo Defence harus dievaluasi secara berkala. Selain itu, serangan ini kembali menyoroti dampak konflik Rusia-Ukraina terhadap stabilitas keamanan global, termasuk rantai pasok pertahanan yang mungkin memengaruhi industri pertahanan nasional.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah peristiwa ini akan mendorong perubahan kebijakan penyelenggaraan event militer di Ukraina, serta bagaimana respons komunitas internasional terhadap praktik serangan yang menargetkan acara publik. Akankah negara-negara lain mengambil pelajaran untuk memperketat aturan serupa di dalam negeri?



