Ekspor China Melonjak 25% di Agustus: AI Global Jadi Mesin Baru Perdagangan Negeri Tirai Bambu
Baca dalam 60 detik
- Data bea cukai China mencatat ekspor naik 25% year-on-year pada Agustus, didorong permintaan global untuk produk teknologi.
- Pengiriman ke AS melonjak 34,4%, tertinggi dalam beberapa bulan, menjelang pertemuan puncak Trump-Xi yang dinanti.
- Lonjakan ekspor komputer sebesar 49,4% sepanjang tahun ini menegaskan posisi China sebagai pemasok utama rantai pasok AI.

Beijing, 9 September 2025 – Geliat perdagangan China kembali menunjukkan tajinya. Data resmi yang dirilis General Administration of Customs (GAC) pada Selasa (8/9) mengungkapkan, nilai ekspor Negeri Tirai Bambu pada Agustus lalu melesat 25 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Angka ini sedikit di atas laju pertumbuhan Juli yang tercatat 23,9 persen, meski masih di bawah proyeksi Bloomberg sebesar 25,9 persen.
Lonjakan ini bukan kebetulan. Di baliknya, ada gelombang investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) yang tengah membuncah. Permintaan atas semikonduktor, perangkat keras komputasi, dan produk-produk terkait AI dari berbagai negara menciptakan berkah tersendiri bagi industri teknologi China. Imbasnya, total impor juga ikut menguat 28,2 persen year-on-year, lebih cepat dari capaian Juli yang sebesar 27,5 persen, kendati masih di bawah estimasi Bloomberg 31,0 persen.
Fenomena ini menegaskan bahwa China, yang pada 2025 lalu mencetak surplus perdagangan bersejarah, kini tengah menikmati fase pertumbuhan kedua yang ditopang oleh revolusi teknologi global. Data GAC menunjukkan, sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor komputer dan komponen terkait melonjak hingga 49,4 persen. Ini sinyal kuat bahwa rantai pasok AI dunia masih sangat bergantung pada pabrikan China.
Yang menarik, pengiriman barang ke Amerika Serikat (AS) pada Agustus tercatat naik 34,4 persen year-on-year, jauh lebih tinggi dibanding lonjakan 17 persen pada Juli. Angka ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan rencana pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington bulan ini. Para analis menilai, data perdagangan yang solid ini bisa menjadi amunisi diplomatik bagi Beijing dalam negosiasi tarif dan akses pasar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, permintaan China yang tinggi terhadap komponen elektronik dan semikonduktor membuka peluang ekspor bagi produk-produk hilir Indonesia, seperti bijih nikel dan produk turunannya yang banyak digunakan dalam baterai dan perangkat keras. Namun, di sisi lain, banjir produk teknologi murah asal China ke pasar global bisa menekan industri manufaktur dalam negeri yang belum sepenuhnya bangkit.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momen ini untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global. “Kita tidak bisa hanya menjadi penonton. Peningkatan ekspor China harus dibaca sebagai sinyal untuk meningkatkan nilai tambah produk kita, terutama di sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung industri AI,” ujarnya kepada LyndHub, Rabu (9/9).
“Peningkatan ekspor China harus dibaca sebagai sinyal untuk meningkatkan nilai tambah produk kita, terutama di sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung industri AI.” — Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah momentum ini akan bertahan di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara. Kebijakan AS yang membatasi ekspor chip canggih ke China, serta ancaman tarif baru, bisa mengubah arah perdagangan secara drastis. Namun, dengan data yang terus menunjukkan pertumbuhan, China tampaknya masih punya banyak kartu untuk dimainkan. Apakah Indonesia akan mampu menangkap peluang di sela-sela persaingan dua raksasa ekonomi ini, atau justru terjepit di tengahnya? Waktu yang akan menjawab.



