Charles Melton Dipuji Sutradara Drive: Wajah Penyair, Jiwa Hewan Buas
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Nicolas Winding Refn memuji bakat aktor Charles Melton, menyebutnya memiliki perpaduan unik antara sensitivitas penyair dan insting hewan buas.
- Melton, yang pertama kali membintangi film superhero garapan Refn, mengaku tidak bergantung pada rencana karir jangka panjang dan lebih mengandalkan rasa ingin tahu.
- Perbandingan dengan Marlon Brando serta analogi olahraga yang dilontarkan Melton menunjukkan pendekatan berbeda dalam berakting, relevan bagi aktor Indonesia yang ingin go international.

Sutradara ternama Nicolas Winding Refn menyebut aktor Charles Melton memiliki perpaduan langka antara kepekaan puitis dan insting primitif, layaknya legenda perfilman Marlon Brando.
Pujian itu disampaikan Refn dalam wawancara dengan Bustle, saat membahas film thriller terbarunya, Her Private Hell, yang dibintangi Melton. Menurut Refn, untuk menjadi pahlawan laga sejati, seorang aktor harus memiliki kedalaman emosi dan kemampuan menyentuh hati penonton. "Charles memiliki dua spektrum itu. Saya katakan padanya, dia memiliki kualitas yang sama seperti Marlon Brando: wajah seorang penyair dan jiwa seekor hewan," ujar Refn, seperti dikutip Bustle.
Bagi Melton, pengalaman bekerja dengan Refn โ sutradara Drive, Bronson, dan Valhalla Rising โ terasa istimewa. "Ini film superhero pertama saya! Dengan Nic Winding Refn!" katanya antusias. Namun di balik semangat itu, Melton mengaku tidak memiliki rencana karir yang kaku. Dalam wawancara dengan Cultured, ia mengungkapkan bahwa ketidakpastian justru menjadi pendorong kreativitas. "Jika ditanya peran apa yang ingin saya mainkan selanjutnya, saya bisa memberikan jawaban klise, tapi saya benar-benar tidak tahu sampai saya menemukannya," ujarnya. Ia menekankan bahwa 'bintang utara' dalam karirnya adalah rasa ingin tahu dan penemuan, bukan target tertentu.
Menariknya, Melton melihat kesamaan antara industri film dan olahraga. "Direktur adalah pelatih, ada koordinator ofensif, defensif, pelatih posisi, dan manajer umum. Pemiliknya adalah studio. Karena saya punya latar belakang olahraga, persiapan adalah kunci. Musim libur juga penting โ saat tidak bekerja, saya menikmati waktu bersama anak perempuan saya," jelasnya. Analogi ini memperkuat pandangannya bahwa karier akting membutuhkan dedikasi dan istirahat seimbang.
Di Indonesia, fenomena aktor dengan spektrum serupa mulai terlihat. Reza Rahadian dan Iqbaal Ramadhan misalnya, mampu memerankan berbagai karakter dari drama hingga laga. Namun, pengakuan dari sutradara kaliber internasional seperti Refn menjadi pengingat bahwa bakat lokal juga bisa bersaing di panggung global jika terus diasah. Film superhero Indonesia seperti Gundala atau Satria Dewa menunjukkan potensi besar, dan pelajaran dari pendekatan Melton bisa menjadi inspirasi bagi sineas Tanah Air untuk lebih berani mengeksplorasi kedalaman karakter.
Dengan pendekatan yang mengutamakan rasa ingin tahu dan kerja keras di luar layar, Melton membuktikan bahwa jalan menuju kesuksesan tidak harus linier. Pertanyaannya, mampukah aktor Indonesia meniru pola pikir ini dan menembus industri Hollywood? Atau justru sinema lokal akan melahirkan pahlawan super dengan wajah penyair dan jiwa hewan buas ala Indonesia?



