Pamela Anderson Peringatkan 'Kekosongan' di Balik Kekayaan, Film Alma Angkat Isu Kelam
Baca dalam 60 detik
- Pamela Anderson menyebut kekayaan berlebih kerap menimbulkan perasaan hampa, sebuah kritik terhadap budaya materialisme.
- Film barunya, 'Alma', mengupas sisi kelam keluarga seperti pelecehan seksual dan kekerasan, tak untuk semua penonton.
- Mantan bintang Baywatch itu juga menolak label seks simbol dan memilih tampil natural tanpa riasan di usia 59 tahun.

Pamela Anderson, aktris yang melejit lewat serial Baywatch, justru menganggap kekayaan bisa mendatangkan kekosongan batin. Di usianya yang ke-59, ia tak ragu menyuarakan kritik terhadap budaya sukses dan popularitas yang kerap diidamkan banyak orang.
Dalam wawancara terbaru dengan People, Anderson mengaku bahwa kegemilangan materi tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. "Saya percaya ada semacam kekosongan yang muncul dari kekayaan tanpa alasan yang jelas," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap Hollywood, banyak selebritas justru bergulat dengan kehampaan eksistensial.
Film drama keluarga berjudul 'Alma' menjadi proyek yang sangat personal bagi Anderson. Dalam film itu, ia memerankan seorang ibu yang dingin dan kejam. Anderson sadar bahwa materi film ini tak akan mudah diterima semua kalangan. "Ini bukan tontonan ringan. Orang-orang akan punya perasaan sendiri tentangnya," katanya. Film ini bakal menguji batas kenyamanan penonton dengan menyajikan realitas pahit di balik pintu tertutup rumah tangga.
Kritik Anderson terhadap kemewahan juga relevan dengan fenomena di Indonesia. Di tengah budaya konsumerisme yang kian kuat, banyak individu—termasuk publik figur tanah air—terjebak dalam perlombaan materi demi pengakuan sosial. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Haryanti, menilai bahwa kekayaan tanpa makna kerap memicu krisis identitas, terutama di kalangan selebritas yang hidup dalam sorotan. "Ketika harta menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan, kekosongan jiwa tak terelakkan," ujarnya.
Di sisi lain, Pamela Anderson juga buka-bukaan soal kebenciannya terhadap label seks simbol yang melekat sejak ia memerankan C.J. Parker di Baywatch. Dalam podcast How To Fail with Elizabeth Day, ia mengaku bahwa status itu membawa perhatian yang tidak diinginkan. "Menjadi simbol seks bagi dunia, saya tidak tahu. Itu membawa perhatian yang tidak saya sukai," ungkapnya. Anderson pun memilih jalur berbeda: tampil tanpa riasan di karpet merah dan merangkul penampilan alami. Baginya, wanita bukanlah sekadar "hewan liar di antara seprai".
Langkah Anderson ini menjadi angin segar bagi industri hiburan yang kerap mengekang perempuan dalam standar kecantikan tertentu. Dengan berani menolak riasan dan berbicara tentang kekosongan materi, ia membuka jalan bagi diskusi yang lebih jujur tentang harga diri dan kebahagiaan sejati. Pertanyaan besarnya: mampukah publik—termasuk di Indonesia—mulai memikirkan ulang definisi sukses yang selama ini dianut?



